「子供は所有物ではない。子供は社会の宝。」—Anak bukan barang. Anak adalah harta masyarakat.

Bagi yang sudah berkeluarga dan punya anak, bagaimana kita mendidik anak-anak kita? Apakah kita yang selalu memandikannya? Apakah kita yang selalu memakaikan bajunya? Apakah kita yang selalu menyuapkan makannua? Apakah kita yang selalu memakaikan sepatunya? Apakah anak-anak kita sudah belajar untuk mandiri? Mungkin hal-hal seperti ini baru muncul sebagai pembicaraan akhir-akhir ini, mungkin satu atau dekade terakhir ini. Mengapa? Karena pada jaman sekarang ini, kita banyak mendengar masyarakat atau keluarga yang mengeluhkan anak-anak yang tidak bisa mandiri. Kira-kira mengapa? Pertama, mari kita lihat bagaimana kondisi rumah tangga pada jaman dulu.

Dulu, kita mencuci pakaian dengan tangan. Karena itu, selama kita mencuci pakaian, kita tidak bisa melakukan hal yang lain. Dulu, kita perlu mengisi bak air untuk mandi dari sumur. Karena itu, untuk mandi saja, kita perlu waktu untuk menyiapkannya. Dulu, kita perlu menyalakan kompor dengan minyak tanah atau bahkan kayu bakar. Waktu memasak perlu waktu yang cukup lama dan tidak bisa ditinggal lama. Bagaimana dengan anak-anak ketika itu? Mereka lebih banyak beraktifitas sendiri. Mereka lebih banyak waktu untuk belajar sendiri.

Nah, bagaimana dengan sekarang?

Kalau dulu perlu waktu berpuluh menit untuk cuci pakaian, sekarang tinggal tekan tombol saja. Kalau dulu perlu belasan menit untuk menyiapkan mandi, sekarang semua tinggal putar keran saja. Kalau dulu perlu waktu belasan sampai berpuluh menit untuk menyiapkan masakan, sekarang tinggal putar knob kompor gas atau bahkan tinggal tekan tombol microwave/oven. Bagaimana dampaknya? Kita, orang tua, akan lebih punya waktu untuk kegiatan yang lain. Kita akan lebih punya waktu untuk memperhatikan anak anda. Kita akan lebih punya waktu untuk kuatir dengan perilaku anak. Dampaknya buat anak? Anak akan lebih banyak dibantu oleh orang tuanya. Anak akan lebih banyak diarahkan oleh orang tuanya. Anak akan lebih sedikit punya waktu untuk beraktifitas sendiri dan belajar sendiri. Jika kita bandingkan dengan kondisi jaman dulu, anak-anak yang berkembang pada jaman itu, lebih mandiri dibandingkan dengan anak-anak yang berkembang di jaman sekarang.

Iya mungkin benar, orang dewasa atau orang tua sekarang, mereka memang gaptek jika dibandingkan dengan anak jaman sekarang, tapi bagaimana dengan kemandirian mereka atau kemampuan mereka dalam menghadapi masalah terutama masalah dalam kehidupan? Sepertinya lebih mandiri orang dulu, lebih tangguh orang dulu.

Banyak kita melihat fenomena jaman sekarang yang berhubungan dengan pendidikan anak. Sejak kecil anak sudah diarahkan sesuai dengan keinginan orang tuanya. Pakaiannya. Model rambutnya. Mainannya. Sekolahnya. Dari kecil sudah dikursuskan ini dan itu. Dari kecil sudah disekolahkan di sekolah yang nyaman. Sekolah dari pagi sampai sore. Dampak yang paling kelihatan adalah, anak menjadi kurang waktunya untuk beraktifitas sendiri. Anak menjadi kurang waktunya untuk bermain dan istirahat.

子供は所有物ではない。Anak bukan barang.

Mendidik anak memang menjadi tanggung jawab orang tua, dan lingkungan masyarakat. Tapi tidak selamanya anak ada di dalam naungan orang tuanya. Suatu saat mereka harus hidup sendiri menjadi bagian dari masyarakat. Untuk itu, mereka juga harus didik untuk bisa berdiri sendiri, mandiri, dalam kehidupan masyarakat. 子供は社会の宝。Anak adalah harta masyarakat di masa depan. Sebagai orang tua, mari kita lebih pandai lagi untuk “menunggu”. Menunggu mereka mandi sendiri. Menunggu mereka memakai baju sendiri. Menunggu mereka makan sendiri. Menunggu mereka pakai sepatu sendiri. Mari kita menunggu dengan sabar, agar mereka bisa mandiri.


Sumber gamber:

Advertisements

Otak kiri, otak kanan—anda lebih dominan yang mana?

Pernah dengar teori “otak kiri, otak kanan”? Menurut teori tersebut, tiap sisi otak mengatur cara berfikir manusia dengan cara yang berbeda, dan dikatakan bahwa tiap manusia memiliki dominansi otak mana yang lebih berperan dalam berfikir. Misalnya, manusia yang otak kirinya lebih berperan dikatakan berfikir lebih logis, analitik, dan objektif; sedangkan manusia yang otak kanannya lebih berperan dikatakan berfikir lebih intuitif, dengan perasaan, dan subjektif.

Teori tentang otak kiri dan otak kanan ini pertama kali disampaikan oleh Roger W. Sperry yang menerima Nobel Prize tahun 1981. Dalam ilmu psikologi, teori ini berdasarkan pada yang disebut sebagai lateralitas fungsi otak (lateralization of brain function), yaitu “Apakah satu sisi dari otak mengatur suatu fungsi”, “Apakah manusia memiliki dominansi otak kiri atau otak kanan?”. Seperti halnya mitos psikologi lainnya, hal ini juga muncul berdasarkan pengamatan pada otak manusia yang menuai distorsi dan dramatisasi berlebihan. Terlepas dari benar atau salahnya teori tersebut, mari kita coba melakukan beberapa eksperimen. Smiling person Amati gambar muka A dan B di atas. Menurut anda, mana yang menunjukkan muka senang atau tersenyum? Gambar ini digunakan untuk menguji sisi otak mana yang dominan dalam berfikir. Gambar A menunjukkan muka sebelah kanan tersenyum. Sebaliknya Gambar B menunjukkan muka sebelah kiri tersenyum. Dikatakan bahwa manusia menggunakan sisi otak yang berlawanan dari mata yang digunakan untuk melihat. Apa yang terlihat dari mata kiri akan diolah dengan otak kanan. Sebaliknya apa yang terlihat dari mata kanan akan diolah dengan otak kiri. Karena itu, manusia dengan otak kanan yang dominan akan melihat Gambar B tersenyum. Sebaliknya manusia dengan otak kiri yang dominan akan melihat Gambar A tersenyum.

Selanjutnya, lihat video berikut: Left rotated? Right rotated?Bagaimana anda melihat figur itu berputar? Apakah berputar ke kanan (arah jarum jam)? Atau ke kiri? Kalau anda melihat figur berputar ke kanan, maka otak kanan anda yang dominan.

Mari kita lanjutkan dengan eksperimen lain yang bisa anda lakukan sendiri. Joint hands Coba anda gabungkan kedua tangan anda seperti biasa tanpa berfikir panjang—kalau perlu sambil menutup mata. Ingat bagaimana posisi jempol kiri dan kanan anda. Folding arms Lalu selanjutnya silangkan kedua tangan anda di dada—sekali lagi seperti biasa tanpa berfikir kalau perlu sambil menutup mata. Catat bagaimana posisi tangan kiri dan kanan anda. Setelah anda mencatat bagaimana posisi jempol dan tangan anda, lihat tabel berikut untuk mengetahui bagaimana karakter anda. 右脳左脳.001Bagaimana hasi eksperimen ini? Sekali lagi, ini semua adalah hasil observasi. Mungkin berbeda dengan realitanya pada diri anda ^_^


Sumber isi dan gambar:

Peraturan baru mengendarai sepeda (Jepang, 1 Juni 2015)

Berencana untuk berkunjung ke Jepang? Hati-hati ketika akan mengendarai sepeda. Peraturan baru mengendarai sepeda baru saja diberlakukan 1 Juni 2015 ini.

Sejak tahun 2009, sepeda telah dianggap sebagai kendaraan ukuran kecil. Oleh karena itu, peraturan mengendarai sepeda mengikuti aturan yang berlaku untuk kendaraan ukuran kecil, seperti berjalan harus di jalan raya (bukan di trotoar), berjalan di sebelah kiri jalan kendaraan (di Jepang kendaraan berjalan di sebelah kiri, sedangkan pejalan kaki di sebelah kanan di trotoar kalau ada), harus taat pada lampu lalu lintas, taat pada rambu harus berhenti, dan sebagainya. Namun dikarenakan kesadaran dari pengendara-(sepeda)-nya masih kurang dan penegakan dari aparat juga kurang, kadang kala kecelakaan terjadi dikarenakan pengendara sepeda yang tidak menaati peraturan, seperti tidak menaati lampu lalu lintas atau tidak berhenti di persimpangan. Setelah dilakukan revisi beberapa kali, akhirnya, mulai 1 Juni 2015 ini, peraturan baru mengendarai sepeda diberlakukan yang intinya, penegakan (sanksi) pada pelanggaran diperketat. Bagaimana sanksinya? Tahapan tindakan pada pelanggaran

  1. Jika pengendara sepeda melakukan hal-hal yang dianggap berbahaya, maka pengendara akan diberi peringatan dan dicatat. Jika pengendara sepeda melakukan hal tersebut 2 kali atau lebih dalam 3 tahun, maka pengendara akan dikenakan sanksi.
  2. Untuk menghindari hal-hal yang berbahaya terjadi kembali, pengendara diberikan sanksi, yaitu diperintahkan untuk mengikuti seminar tentang mengendara sepeda dan tata tertib lalu lintas.
  3. Seminar berlangsung selama 3 jam dengan biaya 5.700 (lima ribu tujuh ratus) yen (dengan perbandingan pendapatan rata-rata karyawan baru lulusan sarjana sekitar 190 ribu yen per bulan).

Hal-hal yang dianggap berbahaya adalah: Hal-hal yang dianggap berbahaya

Tidak menaati lampu lalu lintas Menerobos palang kereta Tidak berhenti pada rambu harus berhenti
Melanggar aturan berjalan di trotoar Rem tidak berfungsi Mengendarai dalam keadaan mabuk
Melanggar rambu dilarang masuk Melanggar aturan jenis kendaraan Tidak mendahulukan pejalan kaki
Melanggar keamanan di persimpangan jalan Melanggar prioritas jalan di persimpangan jalan Melanggar keamanan lalu lintas

Selain dari yang tersebut di atas, setiap pelanggaran akan diberikan peringatan atau sanksi. 5 aturan pokok mengendarai sepeda


Sumber: Liflet yang diterbitkan oleh Kepolisian Jepang

Mendidik anak beribadah dengan sedikit mengajari tapi penuh kesabaran

Pertama saya ingin menekankan bahwa, tulisan ini tidak bermaksud untuk menggurui, tapi lebih kepada berbagi pengalaman. Saya pun hanya menulis berdasarkan apa yang saya dapatkan dan apa yang saya lakukan. Bukan berdasarkan suatu teori. Jadi, belum tentu juga kalau yang saya lakukan ini pembaca lakukan, lalu pembaca akan mendapatkan hal yang sama. Tapi karena saya merasa para pembaca semua memiliki aspirasi yang sama, saya berharap apa yang menjadi pengalaman saya ini bisa menjadi inspirasi bagi pembaca semua.

Anak pertama saya, Akira, laki-laki, baru saja mencapai umur lima tahun. Karena sedang tugas studi, sudah lebih dari setengah tahun ini saya tidak tinggal bersama dengan keluarga. Beberapa waktu yang lalu saya mendapat kabar dari ibunya bahwa Akira sekarang rajin sholat ke musholla dekat rumah, bahkan kadang-kadang qomat juga. Wah, bukan main senangnya saya mendengar itu. Saya merasa terharu dengan pertumbuhan anak saya.

Saya pertama kali mengajak anak saya sholat di masjid ketika anak saya berumur dua tahun. Kebetulan waktu itu pas Bulan Ramadhan, saya ajak ke masjid untuk sholat Isya dan Tarawih. Alhamdulillah, di masjid tidak rewel, walaupun tidak sampai selesai seluruh sholat Tarawihnya, kemudian saya ajak pulang. Esoknya dan beberapa hari kemudian, ketika saya coba ajak lagi, kadang-kadang mau kadang-kadang tidak mau, tapi saya tidak memaksa. Di rumah, saya sholat kadang sendiri kadang jamaah dengan istri saya. Anak-anak saya pun, kadang ikut berjamaah, kadang tidak.

Terus terang, saya tidak pernah mengajarkan anak saya sholat itu bagaimana. Saya hanya sholat, mengajak anak tapi tidak memaksa, lalu anak saya berusaha untuk mengikuti. Kalau ada yang salah, seperti misalnya salah meletakkan tangannya ketika berdiri, saya langsung membetulkannya. Ketika jamaah di masjid, misalnya anak saya menoleh ke sana, atau jalan ke mana-mana, saya akan langsung melarang. Setelah sholat selesai, lalu saya mengingatkan anak saya supaya tidak bermain di masjid.

Di sekolahnya—sudah lebih dari setengah tahun ini anak saya masuk taman kanak-kanak, dia diajarkan berdoa dan bacaan-bacaan sholat. Sebelumnya, dia hanya sekedar ikut-ikutan saja ketika ada orang baca doa atau adzan atau qomat, tapi begitu sudah sekolah, dia mulai bisa membaca doa dengan baik.

Begitulah yang saya lakukan, berkaitan dengan pendidikan ibadah pada anak saya. Dan alhamdulillah, sekarang anak saya rajin sholat di musholla, bahkan kadang-kadang qomat di musholla. Lingkungan tempat tinggal kami memang perumahan muslim, walaupun sepertinya musholla yang baru dibangun belum setengah tahun yang lalu ini masih belum ramai. Tapi saya memang usahakan sebisa mungkin untuk sholat di masjid (tidak jauh dari rumah juga—sebelum ada musholla di dalam perumahan) dan di musholla, dan saya hampir selalu mengajak anak saya untuk ikut ke masjid, walaupun kadang-kadang mau kadang-kadang tidak mau.

Akira punya adik, Akari, perempuan, yang sekarang berumur dua tahun delapan bulan. Setengah tahun yang lalu, saya coba ajak dia ke masjid, dan alhamdulillah, dia mau. Saya pakaikan mukenah, lalu saya ajak ke musholla. Berbeda dengan kakaknya, Akari lebih aktif, jalan-jalan di dalam masjid dan main dengan anak-anak lain. Beberapa waktu lalu yang lalu ketika saya ada waktu berkumpul dengan keluarga, saya pun mengajak Akari sholat ke musholla. Walaupun masih bermain-main saja di musholla, tapi saya perlakukan sama dengan kakaknya, yaitu langsung saya ingatkan ketika sholat dan setelah selesai sholat. Dengan harapan, kalau sudah bertambah besar nanti, akan pandai juga seperti kakaknya. Aamin.


Sumber gambar: PULSK, MUSLIM SUMBAR.

Tips: Agar anak tidak menangis ketika ke dokter gigi

Orang dewasa pun banyak yang takut ke dokter gigi..

Ingat dengar suara “kiii…iin” dan bau yang nggak enak? Ingat bagaimana rasanya ketika gigi dikikis? Kalau ingat itu semua, rasanya nggak ingin ke dokter gigi ya.

Anak-anak lebih takut lagi..

Menangis keras sekali, sampai akhirnya tidak jadi diobati. Pernah mengalami hal itu? Dokternya pun bingung. Orang tuanya pun jadi ingin ikut menangis.

Apa tipsnya supaya tidak takut dokter gigi?

Tidak sedikit orang dewasa yang takut atau tidak suka ke dokter gigi. Mengapa? Sebagian besar dikarenakan ketika masih kecil mereka mendengar kata-kata yang tidak sengaja diucapkan atau melihat yang dilakukan oleh ayah atau ibunya, dan itu terus teringat sampai mereka besar. Inginnya mereka suka dengan dokter gigi, tapi pada prakteknya tidak semudah itu. Bagi orang tua, paling tidak, berhati-hatilah dengan kata-kata atau tindakan yang dilakukan. Sekali si anak memiliki rasa takut atau tidak suka, sampai mereka dewasa pun, mereka tidak ingin ke dokter gigi. Yang akhirnya giginya tidak bisa terawat dengan baik.

1. Biasakan untuk membuka mulut

Anak-anak sangat tidak suka jika disentuh apa yang ada di dalam mulutnya. Ayah.. Ibu.. Biasakan dari kecil untuk mengintip keadaan mulut anaknya. Lalu gosok giginya, lidahnya, dengan lembut. Kalau bisa, tidak hanya ayah dan ibunya, tapi juga kakek, nenek, kakaknya, juga ikut melakukan hal yang sama. Dengan dibiasakan seperti itu, si anak menjadi kurang merasa risi untuk dilihat mulutnya oleh orang lain.

2. Jangan menakut-menakuti dengan menyebut dokter gigi

Ketika anak sedang rewel atau tidak mau menurut, jangan sekali-kali menakut-nakuti dengan mengatakan, “Nanti diajak ke dokter gigi biar disuntik.”, atau sejenisnya. “Dokter gigi” = “Hukuman”. Itulah yang akan ditangkap oleh si anak. Tidak hanya dokter gigi. Dokter umum pun sama.

3. Jangan diam-diam mengajak ke dokter gigi

Karena kuatir anak tidak mau ke dokter gigi (atau dokter umum, rumah sakit), lalu diam-diam mengajak pergi tanpa mengatakan akan ke mana. Si anak akan menjadi tidak siap secara mental, dan akan merasa takut secara berlebihan. Sebelum pergi, katakan kalau akan periksa ke dokter gigi.

4. Tidak mengatakan 5 kata pada anak

1. “Nggak diapa-apain koq” (cuma dilihat aja)

Katanya “nggak diapa-apain”, tapi disuruh baring di kursi, lalu mulut disuruh dibuka, giginya digoyang-goyang, ditusuk-tusuk. Katanya “cuma dilihat aja”, tapi giginya disikat. Yang bersangkutan mungkin akan berfikir seperti itu. Akibatnya, berikutnya mungkin akan berkata, “Nggak mau pergi lagi ke dokter gigi. Nanti nggak tahu mau diapain lagi, beda sama yang ayah ibu bilang.”.

2. “Nggak sakit koq”

Dalam pernyataan itu tersirat seperti ini: “Yang akan kamu alami nanti sedikit menyakitkan dan mungkin nggak kamu suka, tapi dokternya akan berusaha sebaik mungkin.”. Anak yang cerdas akan segera menangkap dan memahaminya seperti ini: “Jadi sebetulnya yang akan aku alami akan menyakitkan. Ibuku berusaha untuk menenangkan aku jadi bicara seperti itu.”. Hasilnya.. seperti ini: “Nggak mau!”. Dalam kejadian sehari-hari, kalau memang hal itu tidak menyakitkan, lalu kemudian nggak akan bilang seperti ini kan? “Nggak sakit koq.”.

3. “Nggak lama koq” (cepet selesai)

Bagi sang anak, “nggak lama” atau “cepat” itu bisa dianggap satu menit, atau mungkin hanya lima detik. Dibilang “nggak lama” tapi ternyata butuh waktu “lima menit”. Pasti nggak mau dan akan menjadi trauma. Kalau nggak tahu harus menahan berapa lama, tidak usah dibilang “nggak lama”—rasa kuatirnya nggak akan hilang.

 4. “Nggak pernah gosok gigi sih..”

Pertama, apakah gigi yang bolong itu semata-mata karena salah sang anak? Misalnya—jika bagaimanapun ingin menyalahkan sang anak—benar itu salah sang anak, apa iya pantas, di saat sang anak mau diobati sama dokter gigi, lalu diberi kata-kata seperti itu?

5. “Nggak sakit?”

Ketika sang anak diperiksa atau diobati oleh dokter, kadang secara tidak sadar kita bertanya, “Nggak sakit?”. Bagi anak, “nggak sakit” sama artinya dengan “sakit”. Ketika sedang menahan sakit pada waktu dirawat, lalu mendengar kata-kata itu, ada anak yang kemudian malah menangis. “Nggak sakit?” atau “Sakit?” tabu untuk diucapkan.

5. Ajak ke dokter ketika sang anak sedang mood-nya baik

Untuk anak umur 3 tahun atau kurang, hindari waktu saat tidur siang. Pergilah di pagi hari. Hindari pula saat perut kosong atau waktu makan. Perhatikan pola hidup sang anak, dan buat janji dengan dokter menyesuaikan dengan waktu itu. Dan luangkan waktu untuk itu—misalnya jangan pada waktu orang tuanya ada acara juga sehingga waktunya menjadi terburu-buru.

6. Pertama yang harus santai adalah ibu dan ayahnya

Anak selalu mengamati orang tuanya. Rasa kuatir atau gugup yang dirasakan oleh orang tuanya akan mudah ditangkap oleh sang anak. Kalau sudah sampai di tempat praktek dokter, ibu, ayah, usahakan untuk santai. Senyum dan ajak ngobrol atau main anaknya seperti biasa. Hal itu bisa membuat rasa kuatir sang anak juga hilang.

7. Karena kasihan, jangan lalu diajak pulang

Ada yang sudah duduk di kursi, berbaring, tapi begitu akan dilihat mulutnya, sang anak menangis keras dan berontak. Karena kasihan, lalu diajak pulang, selain tidak jadi (bisa) dirawat, akan menjadi “pelajaran” tidak baik bagi sang anak, yaitu “kalau ada yang nggak disukai tinggal nangis aja”.

8. Kalau selesai dirawat, berilah pujian

Kalau sudah selesai dirawat, berilah pujian. Berilah penghargaan berupa ucapan seperti, “Hebat!” atau “Wah, ibu kaget kamu bisa!”, atau dengan skin touch, misalnya dengan menepuk-nepuk kepalanya atau beri toss, sudah cukup sebagai rasa ungkapan penghargaan bagi keberanian sang anak. Jangan dibiasakan untuk memberi “hadiah” berupa barang atau memancing dengan barang. Tidak baik bagi pertumbuhan anak.


Sumber:

Tape singkong—suatu kontradiksi dalam masyarakat Islam di Indonesia

Tulisan ini adalah terjemahan dari sebuah blog milik seorang Jepang yang telah lama tinggal di Indonesia. Silakan disimak.


“Tape, tape..”, begitu yang diucapkan oleh bapak penjual tape keliling, yang paling tidak sekali sehari lewat di depan Soho.

Tape, atau lengkapnya tape singkong, merupakan makanan yang diragikan, dan tentu saja mengandung alkohol, dan bisa dipastikan dari bau dan rasanya. Ini membuat saya, sejak lama menganggap makanan ini sangat kontradiksi dengan masyarakat Indonesia yang mayoritas menganut agama Islam.

Agama Islam mengharamkan alkohol, namun tape singkong sudah sejak lama dikonsumsi oleh masyarakat. Di Indonesia, tape singkong dijual dengan tanpa masalah apa-apa. Saya rasa bukan saya saja yang menganggap hal tersebut sebagai kontradiksi.

Singkong adalah salah satu jenis ubi. Orang Jepang mungkin belum pernah mendengar. Mungkin lebih mudah dipahami kalau disebut sebagai bahan dasar tepung tapioka. Bisa dinikmati dengan cara diirisi tipis-tipis dan diolah seperti kripik kentang, atau dibakar dan direbus dan dikonsumsi sebagai makanan pokok.

Tape singkong tampaknya basah dan mengeluarkan aroma osake yang manis yang saya tidak bisa ungkapkan dalam kata-kata (red: osake = sebutan untuk minuman beralkohol atau produk minuman beralkohol khas Jepang). Walaupun aromanya berbeda, mirip dengan amazake (red: sejenis osake yang memiliki aroma yang manis).

Tape singkong bisa dimakan begitu saja, atau digoreng terlebih dahulu. Kalau terlalu banyak bisa menjadi masalah, tapi anak-anak sangat suka dengan tape singkong ini. Kalau digoreng, sebagian alkoholnya menguap mungkin ya..

Pada kenyataannya, cairan yang dihasilkan dalam proses peragian, juga dijual dalam kemasan botol. Saya sudah berjanji dengan tukang ojek yang suka minum osake, akan pergi ke tempat penjualnya. Tidak sabar saya menunggu waktu itu.


Sumber: タペ・シンコン(Tape Singkong)イスラム国の矛盾食品?

“Tuntutlah ilmu sampai ke liang lahat” itu seperti ini ya—Menjadi mahasiswa Program S2 pada umur 73 tahun

Selama 40 tahun menggeluti mesin. Sekarang, saya ingin mempelajari hubungan dengan manusia. Dengan pemikiran seperti itu, seorang Yoshiyuki Tamura (73), setelah pensiun dari pekerjaannya belajar tentang ilmu antropologi. Tamura, yang tinggal di Kita Kyushu, baru saja lulus ujian masuk Program S2 Universitas Kita Kyushu. Mulai musim semi ini, Tamura akan memulai penelitiannya.

Tamura akan melakukan penelitian tentang regenerasi kominitas daerah pada Program S2 Jurusan Sistem Masyrakat, dan pada Tanggal 1 Februari 2015 yang lalu, Tamura telah memaparkan proposal penelitian dilanjutkan dengan wawancara selama 3 jam. Pada hari pengumuman kelulusan Tanggal 12 yang lalu, setelah memastikan nomor ujiannya ada, sambil menunjukkan matanya yang bersinar, Tamura berkata, “Saya akan belajar dengan sungguh-sungguh setiap hari bersama orang-orang muda”.

Tamura yang berasal dari Hyogo, lebih dari 50 tahun yang lalu, memulai karirnya sebagai karyawan Ishikawajima Heavy Industry (sekarang IHI) pada umur 15 tahun. Tamura merancang kompresor yang berfungsi untuk memadatkan cairan dan mengalirkannya. Setelah selama 40 tahun Tamura bekerja tanpa banyak melakukan komunikasi dengan manusia, 10 tahun yang lalu, Tamura mulai melakukan aktifitas kemasyarakatan sebagai anggota pengurus desa di tempat tinggalnya. Di situlah Tamura menemukan pengalaman yang baru, dan dengan karakternya yang tidak bisa diam kalau tidak mengetahui lebih mendalam, membuat Tamura banyak belajar dan mengikuti seminar tentang kemasyarakatan. Sampai kemudian Tamura menjadi wakil kepala desa di tempat tinggalnya.

Akhirnya pada Bulan Juli tahun lalu, Tamura membaca sebuah artikel di sebuah surat kabar tentang “Penelitian ‘Apa Saja’ Tentang Manusia”, yang memperkenalkan penelitian yang dilakukan di Universitas Kita Kyushu oleh Profesor Takegawa. “Ini dia!”. Artikel itu membuat Tamura ingin meneliti lebih mendalam dan mulai mengikuti pertemuan-pertemuan yang diadakan oleh mahasiswa.

Calon pembimbing Tamura, Profesor Takegawa, mengatakan, “Saya melihat, terlepas dari umurnya, Tamura memiliki kemauan yang besar, dan didukung dengan pengalamannya dalam bekerja sebagai teknisi, Tamura memiliki kemampuan untuk menyusun teori, dan saya berharap bisa memberi rangsangan pada mahasiswa muda lainnya.”.

Tamura telah memiliki dua orang cucu. Namun Tamura mengatakan, umur tidak menjadi masalah untuk berargumentasi dengan mahasiswa lainnya. Tamura sambil tertawa berkata, “Saya dipanggil dengan sapaan “Kun” (君 = panggilan untuk orang yang lebih muda). Saya rencana akan menggunakan nama panggilan ‘じいさん’ (= Kakek).”. Tamura akan mengadakan penelitian lapangan pada musim gugur nanti ke India dan Bangaladesh.

Sumber: 朝日新聞 DIGITAL: 機会一筋40年、73歳の春 退職後に勉強、大学院へ

Video promosi musik dalam durasi 3 menit 30 detik ini diambil hanya dalam 5 detik—Percaya?

Video promosi musik Unconditional Rebel yang dinyanyikan oleh penyanyi Inggris Siska ini memiliki durasi 3 menit 30 detik. Selayaknya promosi musik, video ini juga memiliki keunikan tersendiri. Apa keunikannya? Video ini diambil hanya dalam 5 detik. Percaya? Silakan lihat dulu video promosinya dulu—tentu saja yang sudah jadi.

Bagaimana?

Video ini diambil oleh pembuat film dari Perancis bernama Guillaume Panariello. Panariello menggunakan kamera video Phantom 4K (Ultra HD) dengan kecepatan 1000 fps (frame per second) yang dimuat dalam sebuah mobil. Mobil tersebut dijalankan dengan kecepatan sekitar 50 km/jam untuk mengambil 80 orang ekstra yang ditempatkan secara strategis dalam posenya masing-masing di pinggir jalan sepanjang 80 meter. Tentu saja, ada bagian-bagian yang diambil secara terpisah atau menggunakan komputer, namun bagian utama yang dilihat dari video ini adalah hasil rekaman yang diputar ulang dengan sangat lambat (slow-motion).

Baiklah, ini adalah video pembuatannya (making video).

Happy shooting!

Sumber: PetaPixel: This 3.5-Minute Music Video Was Shot in 5 Seconds with a 1000FPS High Speed Camera.

Ingin belajar programming? Baca buku-buku elektronik ini—gratis.

Ingin belajar programming, tapi harga buku mahal, baik itu yang edisi cetak maupun elektronik. Jangan kuatir. Anda bisa dapatkan buku-buku ini gratis, dan legal. Tidak hanya programming, tapi juga buku terkait ilmu komputer lainnya. Jadi, jangan putus asa, dan terus belajar lah.

Learn_the_Art_of_Computer_Programming_With_These_Great_Free_Beginner_Books_-_Linux_Links_-_The_Linux_Portal_Site

Learn the Art of Computer Programming With These Great Free Beginner Books

Learning to code still remains a buzz. The problem facing any budding new programmer is how to start. Questions abound. … But don’t be in such a rush.

.

free-programming-books_free-programming-books_md_at_master_·_vhf_free-programming-books_·_GitHub

GitHub—free-programming-books

Tidak hanya tentang programming saja, tapi juga tentang database, matematika, jaringan, machine learning, R, dan lainnya terkait dengan ilmu komputer.

.


Sumber: Grab 24 Free e-Books to Learn a New Programming Language.

Kunci Jawaban Matematika I – Seleksi Masuk Perguruan Tinggi Jepang 2015

Kunci Jawaban Matematika I – Seleksi Masuk Perguruan Tinggi Jepang 2015


Soal bisa dilihat di sini: [link].