「子供は所有物ではない。子供は社会の宝。」—Anak bukan barang. Anak adalah harta masyarakat.

Bagi yang sudah berkeluarga dan punya anak, bagaimana kita mendidik anak-anak kita? Apakah kita yang selalu memandikannya? Apakah kita yang selalu memakaikan bajunya? Apakah kita yang selalu menyuapkan makannua? Apakah kita yang selalu memakaikan sepatunya? Apakah anak-anak kita sudah belajar untuk mandiri? Mungkin hal-hal seperti ini baru muncul sebagai pembicaraan akhir-akhir ini, mungkin satu atau dekade terakhir ini. Mengapa? Karena pada jaman sekarang ini, kita banyak mendengar masyarakat atau keluarga yang mengeluhkan anak-anak yang tidak bisa mandiri. Kira-kira mengapa? Pertama, mari kita lihat bagaimana kondisi rumah tangga pada jaman dulu.

Dulu, kita mencuci pakaian dengan tangan. Karena itu, selama kita mencuci pakaian, kita tidak bisa melakukan hal yang lain. Dulu, kita perlu mengisi bak air untuk mandi dari sumur. Karena itu, untuk mandi saja, kita perlu waktu untuk menyiapkannya. Dulu, kita perlu menyalakan kompor dengan minyak tanah atau bahkan kayu bakar. Waktu memasak perlu waktu yang cukup lama dan tidak bisa ditinggal lama. Bagaimana dengan anak-anak ketika itu? Mereka lebih banyak beraktifitas sendiri. Mereka lebih banyak waktu untuk belajar sendiri.

Nah, bagaimana dengan sekarang?

Kalau dulu perlu waktu berpuluh menit untuk cuci pakaian, sekarang tinggal tekan tombol saja. Kalau dulu perlu belasan menit untuk menyiapkan mandi, sekarang semua tinggal putar keran saja. Kalau dulu perlu waktu belasan sampai berpuluh menit untuk menyiapkan masakan, sekarang tinggal putar knob kompor gas atau bahkan tinggal tekan tombol microwave/oven. Bagaimana dampaknya? Kita, orang tua, akan lebih punya waktu untuk kegiatan yang lain. Kita akan lebih punya waktu untuk memperhatikan anak anda. Kita akan lebih punya waktu untuk kuatir dengan perilaku anak. Dampaknya buat anak? Anak akan lebih banyak dibantu oleh orang tuanya. Anak akan lebih banyak diarahkan oleh orang tuanya. Anak akan lebih sedikit punya waktu untuk beraktifitas sendiri dan belajar sendiri. Jika kita bandingkan dengan kondisi jaman dulu, anak-anak yang berkembang pada jaman itu, lebih mandiri dibandingkan dengan anak-anak yang berkembang di jaman sekarang.

Iya mungkin benar, orang dewasa atau orang tua sekarang, mereka memang gaptek jika dibandingkan dengan anak jaman sekarang, tapi bagaimana dengan kemandirian mereka atau kemampuan mereka dalam menghadapi masalah terutama masalah dalam kehidupan? Sepertinya lebih mandiri orang dulu, lebih tangguh orang dulu.

Banyak kita melihat fenomena jaman sekarang yang berhubungan dengan pendidikan anak. Sejak kecil anak sudah diarahkan sesuai dengan keinginan orang tuanya. Pakaiannya. Model rambutnya. Mainannya. Sekolahnya. Dari kecil sudah dikursuskan ini dan itu. Dari kecil sudah disekolahkan di sekolah yang nyaman. Sekolah dari pagi sampai sore. Dampak yang paling kelihatan adalah, anak menjadi kurang waktunya untuk beraktifitas sendiri. Anak menjadi kurang waktunya untuk bermain dan istirahat.

子供は所有物ではない。Anak bukan barang.

Mendidik anak memang menjadi tanggung jawab orang tua, dan lingkungan masyarakat. Tapi tidak selamanya anak ada di dalam naungan orang tuanya. Suatu saat mereka harus hidup sendiri menjadi bagian dari masyarakat. Untuk itu, mereka juga harus didik untuk bisa berdiri sendiri, mandiri, dalam kehidupan masyarakat. 子供は社会の宝。Anak adalah harta masyarakat di masa depan. Sebagai orang tua, mari kita lebih pandai lagi untuk “menunggu”. Menunggu mereka mandi sendiri. Menunggu mereka memakai baju sendiri. Menunggu mereka makan sendiri. Menunggu mereka pakai sepatu sendiri. Mari kita menunggu dengan sabar, agar mereka bisa mandiri.


Sumber gamber:

Mendidik anak beribadah dengan sedikit mengajari tapi penuh kesabaran

Pertama saya ingin menekankan bahwa, tulisan ini tidak bermaksud untuk menggurui, tapi lebih kepada berbagi pengalaman. Saya pun hanya menulis berdasarkan apa yang saya dapatkan dan apa yang saya lakukan. Bukan berdasarkan suatu teori. Jadi, belum tentu juga kalau yang saya lakukan ini pembaca lakukan, lalu pembaca akan mendapatkan hal yang sama. Tapi karena saya merasa para pembaca semua memiliki aspirasi yang sama, saya berharap apa yang menjadi pengalaman saya ini bisa menjadi inspirasi bagi pembaca semua.

Anak pertama saya, Akira, laki-laki, baru saja mencapai umur lima tahun. Karena sedang tugas studi, sudah lebih dari setengah tahun ini saya tidak tinggal bersama dengan keluarga. Beberapa waktu yang lalu saya mendapat kabar dari ibunya bahwa Akira sekarang rajin sholat ke musholla dekat rumah, bahkan kadang-kadang qomat juga. Wah, bukan main senangnya saya mendengar itu. Saya merasa terharu dengan pertumbuhan anak saya.

Saya pertama kali mengajak anak saya sholat di masjid ketika anak saya berumur dua tahun. Kebetulan waktu itu pas Bulan Ramadhan, saya ajak ke masjid untuk sholat Isya dan Tarawih. Alhamdulillah, di masjid tidak rewel, walaupun tidak sampai selesai seluruh sholat Tarawihnya, kemudian saya ajak pulang. Esoknya dan beberapa hari kemudian, ketika saya coba ajak lagi, kadang-kadang mau kadang-kadang tidak mau, tapi saya tidak memaksa. Di rumah, saya sholat kadang sendiri kadang jamaah dengan istri saya. Anak-anak saya pun, kadang ikut berjamaah, kadang tidak.

Terus terang, saya tidak pernah mengajarkan anak saya sholat itu bagaimana. Saya hanya sholat, mengajak anak tapi tidak memaksa, lalu anak saya berusaha untuk mengikuti. Kalau ada yang salah, seperti misalnya salah meletakkan tangannya ketika berdiri, saya langsung membetulkannya. Ketika jamaah di masjid, misalnya anak saya menoleh ke sana, atau jalan ke mana-mana, saya akan langsung melarang. Setelah sholat selesai, lalu saya mengingatkan anak saya supaya tidak bermain di masjid.

Di sekolahnya—sudah lebih dari setengah tahun ini anak saya masuk taman kanak-kanak, dia diajarkan berdoa dan bacaan-bacaan sholat. Sebelumnya, dia hanya sekedar ikut-ikutan saja ketika ada orang baca doa atau adzan atau qomat, tapi begitu sudah sekolah, dia mulai bisa membaca doa dengan baik.

Begitulah yang saya lakukan, berkaitan dengan pendidikan ibadah pada anak saya. Dan alhamdulillah, sekarang anak saya rajin sholat di musholla, bahkan kadang-kadang qomat di musholla. Lingkungan tempat tinggal kami memang perumahan muslim, walaupun sepertinya musholla yang baru dibangun belum setengah tahun yang lalu ini masih belum ramai. Tapi saya memang usahakan sebisa mungkin untuk sholat di masjid (tidak jauh dari rumah juga—sebelum ada musholla di dalam perumahan) dan di musholla, dan saya hampir selalu mengajak anak saya untuk ikut ke masjid, walaupun kadang-kadang mau kadang-kadang tidak mau.

Akira punya adik, Akari, perempuan, yang sekarang berumur dua tahun delapan bulan. Setengah tahun yang lalu, saya coba ajak dia ke masjid, dan alhamdulillah, dia mau. Saya pakaikan mukenah, lalu saya ajak ke musholla. Berbeda dengan kakaknya, Akari lebih aktif, jalan-jalan di dalam masjid dan main dengan anak-anak lain. Beberapa waktu lalu yang lalu ketika saya ada waktu berkumpul dengan keluarga, saya pun mengajak Akari sholat ke musholla. Walaupun masih bermain-main saja di musholla, tapi saya perlakukan sama dengan kakaknya, yaitu langsung saya ingatkan ketika sholat dan setelah selesai sholat. Dengan harapan, kalau sudah bertambah besar nanti, akan pandai juga seperti kakaknya. Aamin.


Sumber gambar: PULSK, MUSLIM SUMBAR.

Tips: Agar anak tidak menangis ketika ke dokter gigi

Orang dewasa pun banyak yang takut ke dokter gigi..

Ingat dengar suara “kiii…iin” dan bau yang nggak enak? Ingat bagaimana rasanya ketika gigi dikikis? Kalau ingat itu semua, rasanya nggak ingin ke dokter gigi ya.

Anak-anak lebih takut lagi..

Menangis keras sekali, sampai akhirnya tidak jadi diobati. Pernah mengalami hal itu? Dokternya pun bingung. Orang tuanya pun jadi ingin ikut menangis.

Apa tipsnya supaya tidak takut dokter gigi?

Tidak sedikit orang dewasa yang takut atau tidak suka ke dokter gigi. Mengapa? Sebagian besar dikarenakan ketika masih kecil mereka mendengar kata-kata yang tidak sengaja diucapkan atau melihat yang dilakukan oleh ayah atau ibunya, dan itu terus teringat sampai mereka besar. Inginnya mereka suka dengan dokter gigi, tapi pada prakteknya tidak semudah itu. Bagi orang tua, paling tidak, berhati-hatilah dengan kata-kata atau tindakan yang dilakukan. Sekali si anak memiliki rasa takut atau tidak suka, sampai mereka dewasa pun, mereka tidak ingin ke dokter gigi. Yang akhirnya giginya tidak bisa terawat dengan baik.

1. Biasakan untuk membuka mulut

Anak-anak sangat tidak suka jika disentuh apa yang ada di dalam mulutnya. Ayah.. Ibu.. Biasakan dari kecil untuk mengintip keadaan mulut anaknya. Lalu gosok giginya, lidahnya, dengan lembut. Kalau bisa, tidak hanya ayah dan ibunya, tapi juga kakek, nenek, kakaknya, juga ikut melakukan hal yang sama. Dengan dibiasakan seperti itu, si anak menjadi kurang merasa risi untuk dilihat mulutnya oleh orang lain.

2. Jangan menakut-menakuti dengan menyebut dokter gigi

Ketika anak sedang rewel atau tidak mau menurut, jangan sekali-kali menakut-nakuti dengan mengatakan, “Nanti diajak ke dokter gigi biar disuntik.”, atau sejenisnya. “Dokter gigi” = “Hukuman”. Itulah yang akan ditangkap oleh si anak. Tidak hanya dokter gigi. Dokter umum pun sama.

3. Jangan diam-diam mengajak ke dokter gigi

Karena kuatir anak tidak mau ke dokter gigi (atau dokter umum, rumah sakit), lalu diam-diam mengajak pergi tanpa mengatakan akan ke mana. Si anak akan menjadi tidak siap secara mental, dan akan merasa takut secara berlebihan. Sebelum pergi, katakan kalau akan periksa ke dokter gigi.

4. Tidak mengatakan 5 kata pada anak

1. “Nggak diapa-apain koq” (cuma dilihat aja)

Katanya “nggak diapa-apain”, tapi disuruh baring di kursi, lalu mulut disuruh dibuka, giginya digoyang-goyang, ditusuk-tusuk. Katanya “cuma dilihat aja”, tapi giginya disikat. Yang bersangkutan mungkin akan berfikir seperti itu. Akibatnya, berikutnya mungkin akan berkata, “Nggak mau pergi lagi ke dokter gigi. Nanti nggak tahu mau diapain lagi, beda sama yang ayah ibu bilang.”.

2. “Nggak sakit koq”

Dalam pernyataan itu tersirat seperti ini: “Yang akan kamu alami nanti sedikit menyakitkan dan mungkin nggak kamu suka, tapi dokternya akan berusaha sebaik mungkin.”. Anak yang cerdas akan segera menangkap dan memahaminya seperti ini: “Jadi sebetulnya yang akan aku alami akan menyakitkan. Ibuku berusaha untuk menenangkan aku jadi bicara seperti itu.”. Hasilnya.. seperti ini: “Nggak mau!”. Dalam kejadian sehari-hari, kalau memang hal itu tidak menyakitkan, lalu kemudian nggak akan bilang seperti ini kan? “Nggak sakit koq.”.

3. “Nggak lama koq” (cepet selesai)

Bagi sang anak, “nggak lama” atau “cepat” itu bisa dianggap satu menit, atau mungkin hanya lima detik. Dibilang “nggak lama” tapi ternyata butuh waktu “lima menit”. Pasti nggak mau dan akan menjadi trauma. Kalau nggak tahu harus menahan berapa lama, tidak usah dibilang “nggak lama”—rasa kuatirnya nggak akan hilang.

 4. “Nggak pernah gosok gigi sih..”

Pertama, apakah gigi yang bolong itu semata-mata karena salah sang anak? Misalnya—jika bagaimanapun ingin menyalahkan sang anak—benar itu salah sang anak, apa iya pantas, di saat sang anak mau diobati sama dokter gigi, lalu diberi kata-kata seperti itu?

5. “Nggak sakit?”

Ketika sang anak diperiksa atau diobati oleh dokter, kadang secara tidak sadar kita bertanya, “Nggak sakit?”. Bagi anak, “nggak sakit” sama artinya dengan “sakit”. Ketika sedang menahan sakit pada waktu dirawat, lalu mendengar kata-kata itu, ada anak yang kemudian malah menangis. “Nggak sakit?” atau “Sakit?” tabu untuk diucapkan.

5. Ajak ke dokter ketika sang anak sedang mood-nya baik

Untuk anak umur 3 tahun atau kurang, hindari waktu saat tidur siang. Pergilah di pagi hari. Hindari pula saat perut kosong atau waktu makan. Perhatikan pola hidup sang anak, dan buat janji dengan dokter menyesuaikan dengan waktu itu. Dan luangkan waktu untuk itu—misalnya jangan pada waktu orang tuanya ada acara juga sehingga waktunya menjadi terburu-buru.

6. Pertama yang harus santai adalah ibu dan ayahnya

Anak selalu mengamati orang tuanya. Rasa kuatir atau gugup yang dirasakan oleh orang tuanya akan mudah ditangkap oleh sang anak. Kalau sudah sampai di tempat praktek dokter, ibu, ayah, usahakan untuk santai. Senyum dan ajak ngobrol atau main anaknya seperti biasa. Hal itu bisa membuat rasa kuatir sang anak juga hilang.

7. Karena kasihan, jangan lalu diajak pulang

Ada yang sudah duduk di kursi, berbaring, tapi begitu akan dilihat mulutnya, sang anak menangis keras dan berontak. Karena kasihan, lalu diajak pulang, selain tidak jadi (bisa) dirawat, akan menjadi “pelajaran” tidak baik bagi sang anak, yaitu “kalau ada yang nggak disukai tinggal nangis aja”.

8. Kalau selesai dirawat, berilah pujian

Kalau sudah selesai dirawat, berilah pujian. Berilah penghargaan berupa ucapan seperti, “Hebat!” atau “Wah, ibu kaget kamu bisa!”, atau dengan skin touch, misalnya dengan menepuk-nepuk kepalanya atau beri toss, sudah cukup sebagai rasa ungkapan penghargaan bagi keberanian sang anak. Jangan dibiasakan untuk memberi “hadiah” berupa barang atau memancing dengan barang. Tidak baik bagi pertumbuhan anak.


Sumber: