Soal Matematika I – Seleksi Masuk Perguruan Tinggi Jepang 201

Soal Matematika I – Seleksi Masuk Perguruan Tinggi Jepang 2015

Advertisements

Ingin menjadi pasangan suami istri yang harmonis dan langgeng? Ini tipsnya – dan ilmiah!

Apakah anda sedang mencari jodoh atau berencana menikah dalam waktu dekat? Atau anda adalah pengantin baru? Atau anda sudah lama menikah? Siapa pun anda, pasti anda ingin menjadi pasangan suami istri yang harmonis dan langgeng. Jangan kuatir. Ini ada tipsnya – dan ada dukungan ilmiahnya.

幸せな結婚を見つけよう

Dalam artikel berjudul “科学的に証明された「生涯パートナーを愛し続けられる8つの方法」” (8 Tips Menjalin Hubungan Pernikahan Harmonis dan Langgeng – Dengan Bukti Ilmiah) disebutkan bahwa memelihara suatu pernikahan bukan suatu hal yang mudah, bagaimana pun besarnya cinta anda berdua. Walaupun mungkin anda telah mendengar bahwa perasaan sayang dan perhatian, kepercayaan, dan juga sex, merupakan hal-hal yang sangat penting untuk menjaga agar hubungan tetap harmonis, namun mungkin anda belum pernah mendengar tips yang dibuktikan secara ilmiah. Inilah delapan tips yang akan membuat pernikahan anda menjadi harmonis dan langgeng:

1. Buat acara pernikahan yang sederhana dan tidak memakan biaya yang besar

Anda mungkin ingin menjadikan acara pernikahan anda semeriah mungkin, karena anda menganggap ini adalah acara sekali seumur hidup. Namun hasil riset di Emory University menyebutkan bahwa pasangan yang menghemat acara pernikahannya cenderung lebih lama hidup bersama dibandingkan mereka yang membuat acara dengan biaya yang mahal.

2. Anda bertemu dengan pasangan anda secara online

Hasil studi yang dipublikasikan dalam “Proceedings of the National Academy of Science” menyebutkan bahwa pasangan yang bertemu secara online memiliki persentase perceraian yang lebih rendah dan merasa lebih puas dengan pernikahannya.

3. Tapi anda tidak hidup dalam media sosial

Tapi bukan berarti selamanya hidup di dalam dunia maya. Studi di Boston University tahun 2014 yang dipublikasikan dalam Computers in Human Behavior menyebutkan bahwa penggunaan Facebook dan media sosial lainnya membawa pada ketidakpuasan dalam pernikahan dan meningkatkan persentase perceraian.

4. Melihat film bersama

Berdasarkan studi yang dipublikasikan dalam “Journal of Consulting and Clinical Psychology” disebutkan bahwa pasangan yang biasa melihat film bersama akan tinggal bersama. Ketika peneliti meminta mereka untuk menontoh film bersama dan mengobrol tentang karakter film selama 30 menit, mereka (peneliti) melihat bahwa persentase perceraian berkurang 50%.

5. Memberi respon pada komentar (atau keluhan) dari pasangan anda – walaupun mungkin mengganggu

Menurut psikolog John Gottman, ketika pasangan anda menganggu anda dengan menunjukkan sesuatu yang lucu di Internet ketika anda sedang membaca, pasangan anda tidak hanya ingin menghibur anda tetapi juga ingin mendapat perhatian dari anda. Jika anda dengan spontan menolak dan mengatakan anda sedang sibuk, maka anda akan menyakiti hati pasangan anda.

6. Gunakan kata “kita” ketika berdiskusi bersama

Berdasarkan studi di University of California, Berkeley, pasangan yang menggunakan kata “kita” ketika sedang bertengkar, akan lebih mudah untuk berbaik kembali dengan sedikit tekanan dibandingkan dengan menggunakan kata-kata “saya” atau “kamu”.

7. Jadikan pasangan anda sebagai idola – kagumi pasangan anda

Pada studi yang dilakukan oleh University of Buffalo, peneliti meminta pada 222 pasangan untuk menilai pasangannya masing-masing dan mereka sendiri dalam beberapa karakteristik yang berbeda, beberapa kali selama tiga tahun. Mereka yang “mengidolakan” karakteristik pasangannya cenderung untuk hidup bahagia bersama.

8. Lakukan hal-hal yang anda berdua nikmati

Anda mungkin menganggap bahwa berbagi waktu luang bersama adalah hal yang paling penting. Namun hasil temuan yang dipublikasikan dalam “Journal of Marriage and Family” menyebutkan bahwa, berbagi aktifitas pasangannya yang sebetulnya dia sendiri sangat tidak suka, akan mengurangi kebahagiaan dalam pernikahan. Jika pasangan melakukan kegiatan yang kedua-duanya sukai dan nikmati, maka mereka akan mendapatkan kebahagiaan baik pada waktu melakukan kegiatan tersebut maupun pada pernikahan mereka.

Semoga bermanfaat, dan anda, termasuk saya, bisa memiliki kehidupan pernikahan yang harmonis, dan langgeng.


Sumber inspirasi: “科学的に証明された「生涯パートナーを愛し続けられる8つの方法」“. Sumber gambar: [link] dan [link].

Apakah rekan kerja anda adalah “teman baik” anda?

Waktu anda sekolah atau kuliah dulu, ketika guru atau dosen anda memberi instruksi membuat kelompok untuk mengerjakan tugas, apa yang anda lakukan? Hampir bisa dipastikan, anda akan membuat kelompok yang berisi teman-teman baik anda – begitu juga dengan teman-teman anda. Mengapa? Karena, naluri manusia yang berbicara bahwa seseorang akan memiliki potensi bekerja yang lebih tinggi jika bisa bekerja bersama teman-teman baiknya.

Jeff Fermin dari õfficevibe menampilkan hasil suatu survei dalam bentuk infografis, yang menunjukkan tentang bagaimana pentingnya memiliki teman di tempat kerja. Beberapa di antaranya adalah:

  1. Membuat kehidupan kerja (work-life) menjadi lebih baik. 70% dari karyawan mengatakan teman dalam pekerjaan adalah elemen terpenting untuk mendapatkan kebahagiaan dalam bekerja.
  2. Retensi karyawan menjadi lebih baik karena (ada) teman. 58% dari karyawan pria menolak pekerjaan dengan gaji yang lebih tinggi kalau menjadikannya berpisah dengan teman kerjanya. 74% dari karyawan wanita mengatakan hal yang sama.
  3. Meningkatkan moral karyawan. Dengan hanya hal sepele seperti pengadaan meja makan yang lebih besar, bisa menambah 25% moral dan produktifitas karyawan.
  4. Teman yang lebih baik = Budaya perusahaan yang lebih baik. 50% karyawan bersama teman-teman terbaiknya dalam pekerjaan melaporkan bahwa mereka memiliki ikatan yang kuat dengan perusahaan.
  5. Teman terbaik dibangun dalam pekerjaan. Satu dari tiga orang dewasa paling tidak menemukan satu teman dekatnya dalam pekerjaan.

Memang, untuk mendapatkan outcome yang maksimal, bisa saja seorang manajer perusahaan merekrut profesional dari luar, dan menjadi hal yang biasa jika seorang manajer klub sepak bola merekrut pemain berprestasi dari negara lain. Namun pada prakteknya, organisasi tidak selalu mendapatkan outcome yang diharapkan.

Misalnya, kita kumpulkan 11 orang pemain sepak bola terbaik dari seluruh dunia kemudian kita bentuk satu tim untuk melawan tim nasional terbaik dari Jerman (ya, juara piala dunia sepak bola 2014), siapa yang yang menang? Belum tentu tim all-stars akan menang.

Jika ada seorang manajer yang harus memilih antara dua orang untuk bekerja bersama dia, di mana dua orang tersebut memiliki kompetensi yang sama, maka manajer tersebut tentu akan memilih orang yang bisa diajak kerja sama. Tapi bagaimana jika kompetensi kedua orang tersebut berbeda?

Misalnya kita buat model sederhana seperti ini: = aX + bY, di mana X adalah kemampuan kerja manajer dan Y adalah kemampuan kerja rekan kerjanya; a dan b adalah faktor yang dipengaruhi oleh “pertemanan” dalam pekerjaan antara X dan Y yang memiliki nilai 0..∞; maka O (outcome) adalah hasil dari pekerjaan bersama mereka. Faktor a dan b inilah, yang dalam konteks “pertemanan” dalam pekerjaan, akan menentukan apakah manajer dan rekan kerjanya akan secara maksimal menggunakan seluruh kemampuannya atau tidak. Jadi bisa jadi, manajer akan memilih orang dengan kemampuan yang lebih rendah namun memiliki tingkat kepercayaan yang lebih tinggi, dengan harapan akan mendapatkan outcome yang lebih tinggi.

Mungkin dalam prakteknya model tersebut tidak sederhana seperti itu. Banyak faktor-faktor eksternal lain yang dapat mempengaruhi outcome pada waktu bekerja maupun pada waktu proses rekrutmen.

Dari asumsi naluri manusia, kemudian didukung dengan hasil survei, ditambah lagi dengan model di atas, memang wajar jika kita cenderung untuk mengumpulkan orang-orang terbaik dalam pekerjaan kita, namun untuk mendapatkan outcome terbesar, perlu dipertimbangkan juga faktor “pertemanan” dalam pekerjaan. Faktor “pertemanan” ini tentu saja bisa dibangun dalam proses dan kehidupan kerja. Namun jika faktor pertemanan ini telah diketahui dari awal dan memberikan potensi outcome yang lebih tinggi, maka patut dipertimbangkan dalam proses rekrutmen.

Hal ini berlaku pada setiap jenis pekerjaan, mulai dari kelompok dalam mengerjakan tugas sekolah atau kampus, kepanitiaan, klub olah raga, perusahaan atau organisasi, sampai ke pemerintahan dalam suatu negara.


Sumber inspirasi: Why It’s Important to Have Friends at Work [link]. Sumber gambar: [link] dan [link].

Mencari kesetaraan dalam masyarakat yang hilang..

Saya bukan ahli ekonomi. Tapi saya tertarik dengan pendapat yang mengatakan bahwa banyak hal dipengaruhi oleh ekonomi, seperti pendidikan, kemakmuran, norma dalam masyarakat, maupun kemiskinan. Khususnya dalam konteks kehidupan masyarakat di Indonesia, lebih kurang saya setuju bahwa kondisi dan fenomena yang terjadi di Indonesia dipengaruhi oleh ekonomi, dalam hal ini adalah kemampuan ekonomi masyakarat. Dan hal ini diperkuat dengan adanya perbedaan (kemampuan) ekonomi dalam masyarakat yang semakin melebar. Sampai kemudian saya membaca sebuah tulisan hasil wawancara Asahi News Digital dengan ekonom Perancis Thomas Piketty, penulis buku berjudul “Capital in the Twenty-First Century“. Piketty mengatakan bahwa sejarah ketidaksetaraan yang ada bukan semata-mata hasil dari sejarah ekonomi namun juga sejarah politik.

(インタビュー2015)失われた平等を求めて 経済学者、トム・ピケティさん 〜 朝日新聞 DIGITAL 2015/01/01

Kebebasan dan kesetaraan, adalah prinsip dasar yang ada dalam demokrasi. Di satu sisi kebebasan turut berkembang dalam era globalisasi, namun di sisi yang lain kesetaraan seakan-akan semakin tertutup dalam bayang-bayang. Sementara itu, perbedaan antara yang kaya dengan yang miskin dan keretakan dalam masyarakat menjadi semakin lebar. Dalam kondisi seperi itu lahirlah buku ini, “Capital in the Twenty-First Century”, yang ditulis pertama kali oleh Thomas Piketty pada akhir tahun 2013 dalam Bahasa Perancis kemudian diterbitkan dalam Bahasa Inggris pada Maret 2014 dan secara diam-diam menjadi best-seller walaupun banyak menerima kritikan. Dalam buku ini, Piketty menggambarkan struktur “ketidaksetaraan” (inequality atau inègalitè dalam Bahasa Perancis) secara jelas, namun dengan tegas pula Piketty mengatakan, “Saya tidak pesimis.” (dengan keadaan itu).

Dalam wawancara tersebut Piketty mengatakan, “Sejarah ketidaksetaraan selalu beriringan dengan sejarah politik. Terutama pada masyarakat berkembang berbasis demokrasi, perlu adanya justifikasi terhadap ketidaksetaraan. Dalam Deklarasi Hak Asasi Manusia 1789 Pasal 1 disebutkan, ‘Manusia dilahirkan merdeka dan tetap merdeka dan memiliki hak yang sama. Perbedaan dalam masyarakat hanya boleh ada atas keuntungan bersama‘. Jelas di situ bahwa ketidaksetaraan hanya bisa diterima jika itu karena dan untuk keuntungan bersama.”. Namun di sini tidak dijelaskan yang dimaksud dengan keuntungan bersama itu seperti apa. Piketty melanjutkan, “Orang kaya berkata, ‘(Kebijakan) ini baik juga untuk orang miskin. Mengapa? Karena ini akan membuat semua menjadi berkembang.‘. Dalam masyarakat berkembang manapun berpendapat bahwa ketidaksetaraan selayaknya dibatasi hanya karena dan untuk keuntungan bersama. Namun, kadang-kadang, para èlite dan pemimpin membuat kebijakan yang bersifat menipu. Oleh karena itu dalam buku ini, saya menyinggung juga tentang bagaimana masyarakat memandang ketidaksetaraan sambil menunjukkan perdebatan politik dan karya seni. Pada akhirnya, apa yang saya tulis dalam buku ini, bukan tentang ketidaksetaraan dalam sejarah ekonomi tapi dalam sejarah politik. Ada atau tidaknya, atau makin tinggi atau makin rendahnya tingkat ketidaksetaraan bukan semata-mata dipengaruhi pengambilan keputusan berdasarkan ekonomi saja, namun juga dipengaruhi kebijakan politik.”. Lalu, dengan makin tingginya tingkat ketidaksetaraan sekarang ini, apakah itu berarti kemampuan politik untuk mengontrol melemah?

Rendah atau tingginya tingkat ketidaksetaraan tidak hanya dipengaruhi keputusan berdasarkan ekonomi saja, namun juga dipengaruhi kebijakan politik – Thomas Piketty

Piketty kemudian melanjutkan, “Di negara-negara maju, untuk menekan tingkat ketidaksetaraan dan menjamin kesetaraan dalam masyarakat, mereka menerapkan sistem perpajakan yang ketat. Sistem ini berfungsi dan ada efeknya – walaupun rapuh (terdapat celah) lebih dari yang kita bayangkan.”. Dalam buku ini Piketty menyarankan sistem perpajakan progresif dan sistem negara yang memperhatikan kesejahteraan masyarakat secara menyeluruh. Piketty mengatakan, “Negara yang memperhatikan kesejahteraan masyarakat secara menyeluruh artinya, tidak hanya uang pensiun, jaminan kesehatan, atau kompensasi PHK saja yang diatur oleh negara, namun juga secara aktif beperan dalam pengembangan pendidikan. Investasi (negara) terhadap pengembangan pendidikan akan mendorong konvergensi antar lapisan dalam masyarakat yang membuat menurunnya tingkat ketidaksetaraan dalam masyarakat.”.

Sebetulnya masih banyak yang ditulis dalam hasil wawancara itu. Yang bisa Bahasa Jepang, silakan dibaca kelanjutannya di sini: [link]. Dan terlepas dari kritik terhadap isi buku ini – saya kurang paham teori ekonominya –, saya di sini akan coba mengambil intisari dan hikmahnya saja.

Apa yang disampaikan oleh Piketty tentang prinsip dalam Deklarasi Hak Asasi Manusia dan kelemahannya sebetulnya ada juga di Indonesia. Dalam UUD 1945 Perubahan dijelaskan juga tentang hak asasi manusia. Dalam Pasal 28A s.d. 28I dijelaskan tentang hak setiap warga negara, namun dalam Pasal 28J Ayat (2) disebutkan, “Dalam menjalankan hak dan kebebasannya, setiap orang wajib tunduk kepada pembatasan yang ditetapkan dengan undang-undang dengan maksud semata-mata untuk menjamin pengakuan serta penghormatan atas hak dan kebebasan orang lain dan untuk memenuhi tuntutan yang adil sesuai dengan pertimbangan moral, nilai-nilai agama, keamanan, dan ketertiban umum dalam suatu masyarakat demokratis.”. Ini mirip dengan Pasal 1 Deklarasi Hak Asasi Manusia, di mana, secara implisit, hak dan kebebasan seseorang bisa dibatasi atas dasar hak dan kebebasan orang lain, dan itu tidak dijelaskan secara eksplisit. Di sinilah peran penyelenggara negara dalam mengontrol hal tersebut, yang menurut Piketty, secara tidak langsung akan mempengaruhi naik turunnya tingkat ketidaksetaraan.

Hal kedua yang saya ambil dari apa yang disampaikan oleh Piketty adalah tentang sistem perpajakan, di mana Piketty menyarankan diterapkannya sistem perpajakan progresif. Secara implisit Piketty menyampaikan bahwa dengan diterapkannya sistem perpajakan progresif, maka perbedaan antara si kaya dengan si miskin akan menjadi berkurang atau tidak menjadi besar. Hal ini bisa dilihat pada struktur masyarakat Jepang, di mana perbedaan antara orang kaya dan miskin tidak besar. Jepang telah menerapkan sistem perpajakan progresif ini sejak awal, dan negara jugalah yang mengatur sistem penjaminan kesejahteraan lainnya seperti uang pensiun, jaminan kesehatan, kompensasi PHK, serta pendidikan. Pajak tidak hanya berfungsi untuk menambah pendapatan fiskal, namun juga berfungsi untuk mengontrol ketidaksetaraan, yaitu dengan menerapkan pajak progresif. Dirjen Pajak Indonesia, dalam proyek PINTAR (Project for Indonesian Tax Administration Reform) yang dimulai tahun 2009, sudah berjalan ke arah yang benar, walaupun mungkin tujuannya masih semata-mata untuk menambah pendapatan fiskal. Dan Tahun 2014 yang lalu, Indonesia juga sudah menerapkan sistem jaminan kesehatan nasional melalui BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial) Kesehatan. Mudah-mudahan ke depan, kebijakan-kebijakan yang menyangkut hajat hidup orang banyak akan terus dikembangkan.

Terakhir, siapa pun pemimpin negara saat ini, saya berharap dan berdoa, agar mereka betul-betul menjalankan amanah UUD 1945. Dan bagi para calon pemimpin di masa depan, saya berharap agar mereka selalu belajar dari sejarah dan memiliki wawasan yang luas.

“Mengapa saya harus bekerja?” – Ini jawaban seorang direksi terhadap pertanyaan seorang mahasiswa

Biasanya, waktu-waktu sekarang ini banyak diisi dengan kegiatan seminar dari perusahaan-perusahaan yang akan menerima karyawan baru dari calon lulusan perguruan tinggi. Namun tahun ini, kegiatan ini baru akan dimulai bulan Maret tahun depan. Walaupun demikian, ternyata banyak di antara para mahasiswa calon lulusan perguruan tinggi yang sudah mulai bergerak. Mungkin ini pengaruh dari maraknya kesempatan “internship” yang diselenggarakan oleh perusahaan-perusahaan.

Ada seorang mahasiswa yang baru menyelesaikan kegiatan internship di salah satu perusahaan. Mahasiswa itu mengirimkan pesan via e-mail. E-mail itu berisi ucapan terima kasih yang ditujukan pada direksi perusahaan tersebut. Namun di akhir pesan, mahasiswa tersebut menuliskan satu pertanyaan. E-mail itu pun diteruskan kepada direksi perusahaan untuk meminta petunjuk bagaimana menjawab pertanyaan tersebut. Direksi yang membaca pesan tersebut mengatakan, “Saya akan menjawab sendiri.”. Pertanyaan yang diajukan, walaupun tidak secara langsung disampaikan, intinya adalah:

Mengapa saya harus bekerja?

Direksi tersebut mengatakan, “Memang, saya pernah menyampaikan bahwa hasil internship dan isi pertanyaan itu tidak akan mempengaruhi hasil seleksi, tapi pertanyaan yang satu ini butuh keberanian untuk menyampaikannya. Saya kagum dan saya ingin serius menjawab pertanyaannya.”. Direksi tersebut pun menjawab langsung e-mail itu, dan mahasiswa tersebut mengucapkan terima kasih atas jawaban langsung yang diberikan. Berikut adalah e-mail yang dikirimkan oleh direksi tersebut.

Selamat siang,

Ketika saya menerima pertanyaan, “Mengapa saya harus bekerja?”, saya betul-betul terkejut – karena selama ini saya berfikir, “Bekerja adalah hal yang wajar.”. Tetapi, karena saya berpendapat bahwa meragukan sesuatu “yang dianggap biasa” adalah suatu hal yang penting, maka saya akan menjawab pertanyaan itu dengan serius.

Saya pernah berfikir, seperti anda sekarang ini, “Bekerja itu sulit, menjadi beban.”. Sekarang bagaimana? Mungkin tidak berubah, masih merasa bekerja itu sulit dan tidak ada satu pun yang mudah. Tetapi, saya ingin menyampaikan pada anda bahwa, “bekerja”, memberikan banyak hal pada diri anda.

1. Dengan bekerja, anda akan mendapatkan uang

Mungkin ada orang di dunia ini yang mengatakan, “Saya tidak butuh uang.”. Namun, dengan ada uang kemudian menjadi susah – juga tidak, banyak orang yang tidak bisa hidup tanpa uang. Bahkan banyak orang yang bekerja karena uang.

Hanya saja, jika “bekerja hanya untuk uang”, mungkin betul seperti kata anda, bekerja itu sulit, sesuatu yang menjadi beban. Banyak orang bekerja separuh hidupnya. Jika hal itu sulit atau menjadi beban, wajar kalau ingin dihindari.

Karena itu, penting untuk mengetahui, “Bagaimana membuat bekerja itu menyenangkan.”.

2. Dengan bekerja, anda akan memiliki tujuan yang jelas

Saya tidak bisa menjawab kalau saya ditanya, “Untuk apa kita hidup?”. Namun, kalau anda bekerja di perusahaan, saya bisa memberikan dengan jelas, “Tahun ini, saya ingin anda menyelesaikan ini.”.

Daripada menjalani hidup tiap hari tanpa tujuan yang jelas, lebih baik memiliki satu tujuan yang jelas, kemudian berusaha dengan keras untuk mencapai tujuan tersebut.

3. Dengan bekerja, akan membawa pada pertemuan yang baru

Jika hanya “mengkonsumsi”, kita tidak perlu bertemu dengan siapa pun. Mungkin ada yang lebih senang dengan kesendirian seperti itu. Tapi untuk banyak orang, “kesendirian” merupakan hal yang menyakitkan.

Bekerja adalah partisipasi pada masyarakat. Dengan bekerja, akan membawa pada banyak pertemuan dalam masyarakat. Tidak hanya relasi kerja, konsumen, rekan perusahaan, atau relasi bisnis, dan banyak pihak lainnya.

Tentu saja, mungkin tidak semua akan membawa arti pada kehidupan anda. Namun seperti yang ada pada kata pepatah, “jangan sia-siakan pertemuan saat ini seakan-akan tidak akan bertemu lagi”, bisa jadi satu pertemuan akan mengubah hidup anda.

4. Dengan bekerja, anda bisa belajar

Bekerja akan membuat anda “belajar”. Jika anda masuk pada suatu perusahaan, yang anda temui adalah ketidaktahuan, dan anda harus belajar tiap hari tiap saat. Dan agar pengetahuan yang anda miliki tidak menjadi usang, anda harus terus belajar.

Hanya saja, kalau anda menjalankan perusahaan, anda akan banyak bertemu dengan orang yang mengatakan, “Saya nggak begitu bisa belajar waktu sekolah.”. Jangan kuatir. “Belajar” dalam pekerjaan berbeda dengan “belajar” di sekolah.

Tujuan belajar di sekolah adalah menyelesaikan masalah yang diberikan dalam waktu yang singkat. Belajar dalam pekerjaan adalah proses yang dimulai dari menyusun masalah, mencari jawabannya, dan menerapkan jawaban itu dalam kenyataan yang dihadapi, dan itu merupakan aktifitas yang kreatif.

Karena itu, dengan “belajar”, manusia bisa “mengayakan” kehidupannya.

5. Dengan bekerja, anda akan mendapatkan kepercayaan

Bekerja artinya anda menerima tanggung jawab. Tidak ada pekerjaan tanpa tanggung jawab. Karena itu, “orang yang bekerja dengan benar” adalah “orang yang menjalankan tanggung jawabnya”, dan akan mendapatkan kepercayaan dalam masyarakat.

Kemudian, “kepercayaan” tidak bisa dibeli dengan uang. Saya berikan contoh: Jika ada orang di hadapan anda yang, “hanya karena punya uang”, bisakah anda percaya pada orang itu? Pada umumnya, tidak. Kepercayaan adalah sesuatu yang diukur dari perilaku yang dibangun secara bertahap dan tidak lahir begitu saja.

Bekerja dengan benar, adalah langkah awal untuk membangun kepercayaan.

6. Dengan bekerja, anda akan menjadi lebih percaya diri

Apakah anda memiliki rasa “percaya diri”? Rasa “percaya diri” adalah hal yang penting.

Memang, mungkin banyak yang berfikir, rasa “percaya diri yang berlebihan” atau “gengsi yang tidak pada tempatnya” tidak layak untuk dimiliki, banyak yang melihat rasa percaya diri dari sisi negatifnya.

Tetapi, siapa pun, akan berfikir, “memiliki rasa percaya diri yang sebenarnya” adalah hal yang penting. Rasa percaya diri yang sebenarnya, adalah, sesuatu yang didapatkan dari hasil pekerjaan yang dilakukan, dan tidak ada hubungannya dengan kesombongan atau harga diri. Kesombongan atau harga diri, bukan perilaku orang yang memiliki rasa percaya diri, namun perilaku yang muncul karena “tidak punya rasa percaya diri tapi ingin diakui oleh orang lain”.

Rasa percaya diri yang sebenarnya, tidak butuh orang lain, tapi hanya dimiliki oleh orang yang “bisa menyelesaikan sesuatu dengan kemampuan dan usahanya sendiri”.

Bekerja adalah menyelesaikan sesuatu. Rasa “percaya diri” lahir dari cara bekerja yang tekun dan keras.

Ini adalah cara pandang saya pribadi. Anda sebagai mahasiswa mungkin memiliki pandangan yang berbeda.

Namun saya berharap, ini bisa menjadi salah satu jawaban dari pertanyaan anda.

Carilah kegembiraan dalam pekerjaan..

Sumber tulisan: 「なんで働かないといけないんですか?」と聞いた学生への、とある経営者の回答 [link]. Sumber gambar: [link] dan [link].

Big Data dan Prospeknya Terhadap Privasi

What is privacy?

Pada Oktober 2014, Neil M. Richards (Professor of Law, Washington University) dan Joathan H. King menulis paper berjudul “Big Data and the Future For Privacy” [link]. Saya akan coba merangkum isi paper yang penuh dengan petunjuk dan saran ini, namun saya sarankan untuk membaca langsung secara lengkap paper tersebut untuk mendapatkan informasi yang lebih detil dan akurat.

Selama ini, “privasi” diartikan sebagai tindakan untuk mengamankan rahasia individu. Tapi realitanya, privasi merupakan satu kondisi di antara “sama sekali rahasia” dan “terbuka untuk semua”. Karena itu, privasi lebih tepat diartikan sebagai aturan perlakuan atau tata-kelola informasi yang menentukan keberadaan informasi individu di antara dua kondisi tersebut. Dengan kata lain, privasi dapat dilihat sebagai aturan tata-kelola informasi individu – information governance. Dengan mengubah cara melihat seperti ini, kita bisa lebih memiliki ketegasan tentang keberadaan aturan yang mengantisipasi penggunaan sekunder dari big-data.

Privacy is not merely about keeping secrets, but about the rules we use to regulate information, which is and always has been in intermediate states between totally secret and known to all.

Untuk mempertimbangkan keberadaan aturan yang mengatur pengelolaan informasi individu, kita perlu menurunkan arahnya dari nilainya dalam masyarakat. Misanya tentang “kebebasan berbicara”, tujuannya bukan untuk membebaskan setiap orang untuk berbicara, namun untuk menegakkan “demokrasi” dan “kebenaran”. Sama halnya dengan privasi, tujuannya bukan untuk melindungi privasi itu sendiri, namun untuk menjaga 4 hal yaitu: (1) identitas (identity), (2) keadilan (equality), (3) keamanan (security), dan (4) kepercayaan (trust). Mari kita lihat satu per satu.

Menjaga identitas – Dalam konteks pemberian rekomendasi berdasarkan analisis perilaku di masa lalu atau kesukaan, perlu dicegah jangan sampai rekomendasi yang diberikan kemudian membatasi ruang gerak maupun pencarian pengetahuan dan informasi.

Menjaga keadilan – Dengan dilakukannya analisis terhadap big-data, perlu dicegah jangan sampai pengguna menjadi terbatas ruang geraknya. Dengan algoritma yang digunakan untuk mengelompokkan individu berdasarkan karakteristik yang dimilikinya, ada kemungkinan seseorang akan menerima perlakukan diskriminasi atau tidak bisa menerima informasi karena dianggap tidak cocok. Dengan kata lain, perlu dibedakan antara pengelompokan (sorting) dengan diksriminasi (discrimination).

Menjaga keamanan – Dengan kemudahan berpindahnya data dari satu tangan ke tangan yang lain, perlu dicegah terjadinya rekayasa data dan perlu terjaganya kualitas data. Untuk itu perlu adanya suatu mekanisme untuk menjaga integritas data dan mencegah terjadinya rekayasa informasi individu. Karena itu, aturan tata-kelola informasi individu tidak dilepaskan dari permasalahan keamanan informasi.

Kepercayaan – Privasi akan mendorong lahirnya kepercayaan. Antara pemberi informasi dengan pengelola dan pemanfaat informasi: makin besar keinginan pihak pertama untuk menjaga privasi maka makin besar cost yang akan dikeluarkan (atau makin berkurang manfaat yang akan diperoleh) oleh pihak kedua – atau yang disebut dengan hubungan cost vs. privacy. Namun jika individu bisa memperoleh kepercayaan dari pengelola informasi bahwa informasi yang diberikan tidak akan disalahgunakan, maka akan lebih banyak dan lebih akurat data yang akan diterima oleh pengelola informasi sehingga dapat menjadikannya lebih bermanfaat. Kemudian hal ini akan mendorong lahirnya kepercayaan pada tingkat yang lebih tinggi.

Jadi, bagaimana aturan tata-kelola privasi seperti ini bisa direalisasikan? Penulis menyampaikan, sambil mencari pendekatan teknologi berbasis information governance, perlunya diutamakan etika dalam penggunaan big-data. Apa pun bentuknya, pengumpulan data, pengolahan data, ataupun keputusan yang diambil berdasarkan output pengolahan, yang dapat memberi ancaman terhadap identitas, keadilan, keamanan, integritas data, dan kepercayaan, harus diatur (regulated) atau kalau perlu dilarang (forbidden). Namun perlu diakui bahwa regulasi formal yang berlebihan dapat memberi dampak pada terbatasnya inovasi yang bisa dilakukan. Untuk mengantisipasi hal itu, bentuk lain dari regulasi formal yang lebih “lembut” (soft) bisa diterapan untuk menutup celah pada regulasi formal. Salah satu contohnya adalah aturan-aturan terkait privasi yang dikaji dan disusun oleh vendor besar seperti Microsoft, Apple, Google, bahkan Facebook.

We have argued that particularly in an age of big data, privacy should not be understood as a matter of keeping secrets, but rather a system of rules governing the ethical collection use, and disclosure of personal information.

Sejalan dengan berkembangnya trend big-data, sesaat, seakan-akan membuat privasi tidak lagi memiliki tempat atau menjadi hal yang menjadi hambatan – namun itu salah persepsi. Dengan kita memahami bahwa privasi adalah aturan yang mengendalikan (govern) alur informasi berdasarkan nilai dan norma kita, dengan sistem aturan privasi yang beretika akan memberikan manfaat pada kita, sebagai komponen yang penting di masa yang akan datang.

From the movie of Back To The Future


Disadur dan dirangkum dari paper berjudul “Big Data and the Future For Privacy” oleh Neil M. Richards dan Jonathan H. King [link]. Sumber inspirasi: [link]. Sumber gambar: [link] dan [link].

Mengapa saya beralih ke Mac?

IBM PC/AT

Saya mulai mengenal dan “menyentuh” PC 26 tahun yang lalu ketika saya duduk di bangku kelas 3 menjelang lulus SMA. Karena belum bisa punya sendiri, saya biasanya pergi ke mall yang ada display PC, kemudian saya utak-utik di sana. Dan biasanya yang saya lakukan adalah menulis program BASIC dan menjalankannya. Begitu senangnya waktu itu, sampai akhirnya orang tua saya membelikan PC, IBM PC XT compatible. Mengapa disebut compatible? Karena bukan yang asli. Kalau yang asli IBM PC mahal sekali – jadi yang kebeli ya yang bukan asli alias rakitan (aka PC jangkrik). Waktu itu prosesornya masih Intel 8088 dengan sistem operasi PC-DOS versi 3.3. Waktu itu RAM-nya masih 256 KB, belum ada hard disk, masih pakai floppy disk 5.25″, OS dan software aplikasinya masih harus di-load dari floppy disk setiap kali akan digunakan, dan software yang biasa saya pakai waktu itu adalah Wordstar (word processor), Lotus 123 (spreadsheet), dan dBase III (database). Printernya masih dotmatrix, yang kalau lagi “nge-print” bunyinya “kriiik.. kriiik..” lumayan berisik apalagi kalau lagi kerja malam-malam.

Setelah itu, seiring dengan perkembangan sistem operasi, DOS dengan console-based-nya berkembang menjadi Windows – yang waktu itu konsepnya masih Windows adalah program yang bergerak di atas DOS untuk menyediakan fitur GUI –, mulai dari Windows 3.1, Windows 4.0, Windows 2000, Windows XP, Windows Vista, Windows 7, sampai yang sekarang Windows 8.1, seluruhnya tentu saja adalah PC atau PC compatible. Pernah saya mencoba PS/2, yang merupakan sistem operasi berbasis GUI buatan IBM yang konon dibuat dari scratch tidak berbasis DOS. Sistem operasi UNIX juga pernah saya gunakan, walaupun sebatas penggunaan pada waktu kuliah S1. Pada saat itu juga saya mengenal TeX/LaTeX – program pengolah kata yang konon umum digunakan pada dunia science. Mac OS, malah belum pernah saya gunakan sampai dengan 10 tahun yang lalu, itu pun hanya beberapa saat, dan kesan yang saya dapat pun tidak menyenangkan, karena MacBook yang saya coba waktu itu sangat-sangat lambat. Lalu mengapa setelah sekian tahun menggunakan sistem Windows saya berpindah ke Mac?

Sebetulnya saya tidak memiliki masalah dengan Windows eco-system yang diterapkan oleh Microsoft. Namun ada sesuatu yang membuat saya tidak puas dengan Windows, walaupun saya juga tidak bisa mengatakan apa itu. Tapi saya coba tuliskan berikut beberapa yang saya bisa ungkapkan:

  • It’s getting even more and more bloated software. Menurut Wikipedia [link]: “Software bloat is a process whereby successive versions of a computer program become perceptibly slower, use more memory/diskspace or processing power, or have higher hardware requirements than the previous version whilst making only dubious user-perceptible improvements“. Ya saya merasakan hal itu pada sistem Windows. Tidak hanya proses pada saat dijalankan, namun juga pada arsitektur sistem itu sendiri, baik itu pada sistem operasi maupun software lainnya. Untuk melakukan instalasi suatu software dengan kompleksitas yang cukup tinggi seperti Office, Visual Studio, berbagai macam server, memerlukan waktu beberapa menit sampai beberapa puluh menit. Ketergantungan antara satu sistem software dengan yang lainnya pun tinggi, terutama untuk produk server.
  • No native support for UNIX-like console-based command. Untuk generasi yang dari awal sudah menggunakan Windows, mungkin kurang bisa memahami ini. Namun bagi mereka yang pernah menggunakan sistem operasi UNIX atau variannya akan merasa ada yang kurang pada sistem Windows – perintah berbasis console (console-based command). Windows juga memiliki itu, melalui Command Prompt-nya, yang kemudian berkembang menjadi Power Shell, namun tetap tidak bisa mengalahkan power dari UNIX command: mulai dari ragamnya, kemudahannya, sampai pada pengembangannya. Beberapa sistem sudah diupayakan untuk menyediakan fasilitas perintah UNIX untuk bisa dijalankan pada lingkungan Windows, mulai dari Cygwin, GnuWin32, MinGW, Interix, sampai dari Microsoft pun menyediakan subsistem untuk UNIX (bekerja sama dengan Interix), namun karena hanya sebagai subset, tetap saja berbeda dengan aslinya.
  • Ugly Japanese fonts. Bagi yang hanya menggunakan karakter alfabet, mungkin ini juga bukan menjadi masalah. Namun bagi saya yang banyak menggunakan bahasa Jepang, ini menjadi masalah yang sangat besar. Mulai versi Windows XP, dengan teknologi ClearType-nya, Microsoft telah membuat huruf-huruf yang ditampilkan pada layar monitor khususnya LCD menjadi lebih nyaman dilihat oleh mata. Namun manfaat teknologi ini tidak terasa sampai ke karakter non-alafabet. Huruf Jepang standarnya ditampilkan tanpa teknologi itu, yang membuat tidak hanya hurufnya menjadi kelihatan jelek, juga ketika ditampikan bersama huruf alfabet menjadi kelihatan timpang.
  • … Dan mungkin masih ada hal-hal kecil lain yang membuat saya merasa kurang nyaman di Windows.

Untuk mengatasi – atau lebih tepat disebut menghindari? – kekurangan itu, saya telah beberapa kali mencoba, yang tentu saja sebatas kemampuan saya, yaitu dengan cara mencoba sistem operasi Linux yang dengan variasi distronya yang beragam telah memiliki user interface yang tidak kalah dengan Windows. Saya telah mencoba beberapa distro namun saya belum menemukan yang sreg yang bisa membuat saya beralih dari Windows. Selain itu, dengan keterbatasan spek PC laptop yang saya miliki, menjadikan Linux, yang seharusnya lebih ringan dari Windows, menjadi sama saja dengan Windows. Sampai kemudian saya dipertemukan dengan iPhone (waktu itu 4s dan tidak lama kemudian 5s), dan tidak lama kemudian sampai saya bertemu dengan Mac saya yang pertama, MacBook Pro with Retina Display.

Sebelum saya cerita apa kelebihan atau mengapa saya beralih ke Mac, mungkin ada baiknya saya cerita tentang sejarah atau seberapa jauh saya mengenal Mac. Seperti yang telah saya ceritakan di atas, saya memang tidak banyak mengenal Mac. Saya mengenal Mac hanya dari foto dan penjelasan yang ada dalam buku atau dari film-film layar lebar atau televisi. Selain itu, hanya pernah menyentuh beberapa saat saja. Namun ada sesuatu yang membuat saya selalu ingin (mencoba) memilikinya. Ada sesuatu yang menarik saya di sana. Mungkin bukan Mac saja tapi produk Apple secara keseluruhan. Saya pernah punya iPod nano, produk Apple music player, yang walaupun saya puas dengan user-interface-nya, saya kurang puas dengan kualitas suaranya. Dan saya juga tidak terlalu memantau perkembangan sampai kepada teknologi yang digunakannya. Namun tetap ada sesuatu yang membuat saya ingin memilikinya – sampai kemudian saya dipertemukan dengan iPhone 4s.

MacBook Pro with Retina Display 13

Pertemuan saya dengan iPhone 4s menjadi salah satu momen yang penting dalam perjalanan hidup saya berkecimpung di dunia IT. Pada saat itu lah saya melihat dan merasakan sendiri dan mengakui teknologi Apple. Insistence – atau dalam bahasa Jepang 拘り (kodawari) – yang tidak tanggung-tanggung, membuat produk Apple memiliki kualitas dan user experience yang sangat tinggi, walaupun konsekuensinya menjadikannya sangat mahal.

Hal yang sama juga berlaku untuk Mac PC dan MacBook. MacBook adalah produk PC laptop dari Apple dengan spesifikasinya yang tidak tanggung-tanggung didukung sistem operasinya OS X dan sistem softwarenya, menjadikannya sebuah workstation yang memberikan user experience yang memuaskan. Walaupun ada beberapa hal kecil yang tidak se-powerful Windows, minimal, apa yang rasa tidak puas dengan sistem Windows terakomodir dengan MacBook Pro with Retina Display 13″ yang saya gunakan sekarang. Dan saya merasa sangat puas dengan pilihan saya.

Hari libur nasional di Jepang: 祝日 dan 祭日 – apa bedanya?

Di Indonesia, kita mengenal adanya hari libur nasional dan cuti bersama. Di Jepang juga ada hari libur nasional, yang ditetapkan dalam undang-undang. Namun kalau dilihat dari sejarahnya, hari libur nasional itu bisa dibedakan menjadi dua, yaitu 祝日 (syuku-jitsu) dan 祭日 (sai-jitsu). Kalau dilihat dari kata kerja dasarnya, 祝う (iwau) dan 祭る (matsuru), kemudian diartikan ke dalam kegiatan dalam Bahasa Indonesia, keduanya bisa diartikan serupa, yaitu merayakan atau memperingati. Lalu, apa bedanya?

日本の成人式 atau hari (menjadi) orang dewasa – perayaan remaja yang berangkat menjadi orang dewasa pada umur 20 tahun

Mungkin kita lihat dari contohnya dulu. Yang masuk dalam kategori 祝日 misalnya, 元日 (gan-jitsu) atau tahun baru Masehi, みどりの日 (midori-no hi) atau hari hijau (penjelasannya nanti ya), dan 天皇誕生日 (tennō tanjōbi) atau hari lahir kaisar, sedangkan yang masuk dalam kategori 祭日 misalnya, 文化の日 (bunka-no hi) atau hari budaya dan 勤労感謝の日 (kinrō kansya-no hi) atau hari terima kasih pada hasil jerih payah. Sudah bisa mengira-ngira perbedaannya? Yuk kita lihat bersama-sama.

Hari libur nasional di Jepang diatur dalam undang-undang. Dalam undang-undang ini, hari libur disebut sebagai 国民の祝日 (kokumin-no syukujitsu) atau “hari perayaan rakyat” atau mungkin yang lebih umum kita dengar sebagai “hari raya nasional”. Dalam satu tahun ada 15 hari raya nasional. Seluruhnya sudah tetap tanggalnya (atau aturan tanggalnya) kecuali dua, yaitu 春分の日 (syunbun-no hi) atau “Hari musim semi” dan 秋分の日 atau “Hari musim gugur”, yang tanggalnya ditetapkan dan diumumkan pada bulan Februari tiap tahunnya oleh 国立天文台 (kokuritsu tenmondai) atau Lembaga Antariksa Nasional Jepang. Lalu, ke mana 祭日 atau “hari peringatan”-nya?

Dalam undang-undang, hari libur hanya disebut sebagai 祝日 atau “hari perayaan”. Di sana tidak disebutkan tentang 祭日 atau “hari peringatan”. Betul. Yang berlaku saat ini di Jepang, 祭日 masuk ke dalam kategori 祝日.

Awal mula dari 祭日 adalah hari diselenggarakannya upacara ritual yang diselenggarakan oleh keluarga kaisar. Sebelum perang dunia, hari-hari tersebut ditetapkan sebagai hari libur. Ketika undang-undang tentang hari libur nasional (国民の祝日に関する法律) disusun dan ditetapkan tahun 1948, sebagian dari hari-hari tersebut ditetapkan sebagai hari libur nasional. Sampai sekarang pun, hari-hari tersebut masih disebut atau dikenal sebagai 祭日.

日本の文化の日 atau hari budaya – dirayakan sebagai upaya untuk mengutamakan budaya pada kehidupan sehari-hari

Jadi..?

Kesimpulannya, dari 国民の祝日 atau hari libur nasional yang ada sekarang, di antaranya ada 祭日, yaitu hari-hari yang sebelum perang dunia di jaman kaisar ditetapkan sebagai hari libur karena ada upacara atau perayaan oleh keluarga kaisar. Supaya lebih jelas, yuk kita lihat daftar hari libur nasional yang berlaku sekarang.

Nama Nama (B. Indonesia) Tanggal penjelasan
元日
ganjitsu
Tahun baru Masehi 1 Januari
成人の日
seijin-no hi
Hari (menjadi) orang dewasa Hari Senin minggu kedua bulan Januari Merayakan remaja yang berangkat menjadi orang dewasa
建国記念の日
kenkoku kinen-no hi
Hari jadi negara 2 Februari 紀元節 (kigensetsu) – Awal mula kaisar pertama 神武天皇 (Jinmu Tennō)
春分の日
syunbun-no hi
Hari musim semi Antara 19-21 Maret 皇霊祭 (kōreisai) – Hari upacara menyambut musim panen di musim semi
昭和の日
Shōwa-no hi
Hari ulang tahun Kaisar Showa 29 April Hari ulang tahun Kaisar Showa
憲法記念日
kenpō kinenbi
Hari lahir undang-undang dasar 3 Mei Hari mulai dilaksanakannya undang-undang dasar
みどりの日
midori-no hi
Hari hijau 4 Mei Hari peringatan dan rasa terima kasih pada alam (hijau)
こどもの日
kodomo-no hi
Hari anak-anak 5 Mei 端午の節句 (tan-go-no sekku) – Mengingatkan kembali pada peran dan kesejahteraan anak di masa depan, dan rasa terima kasih pada ibu (yang telah melahirkannya)
海の日
umi-no hi
Hari laut Hari Senin minggu ketiga bulan Juli Hari peringatan dan rasa terima kasih pada laut dan isinya sebagai negara kelautan
敬老の日
keirō-no hi
Hari penghormatan (pada) orang tua Hari Senin minggu ketiga bulan September Hari penghormatan pada orang tua
秋分の日
syūbun-no hi
Hari musim gugur Antara 22-24 September 皇霊祭 (kōreisai) – Hari upacara peringatan pada orang tua, nenek moyang yang telah tiada
体育の日
tai-iku-no hi
Hari olah raga Hari Senin minggu kedua bulan Oktober Peringatan hari diselenggarakannya Olimpiade Tokyo 1964
文化の日
bunka-no hi
Hari budaya 3 November Mengingat kembali rasa cinta pada kebebasan dan perdamaian, serta mengutamakan budaya – berawal dari hari diumumkannya undang-undang dasar, serta dulunya sebagai 明治節 (meiji setsu) atau hari lahir Kaisar Meiji
勤労感謝の日
kinrō kansya-no hi
Hari terima kasih pada hasil jerih payah 23 November 新嘗祭 (niinamesai atau shinjōsai) – Salah satu upacara kekaisaran untuk menyambut panen – dirayakan untuk menghargai hasil jerih payah, merayakan kelahiran, dan saling berterima kasih antar sesama rakyat
天皇誕生日
tennō tanjōbi
Hari ulang tahun kaisar Tanggal ulang tahun kaisar saat itu Hari lahir kaisar pada saat itu – pada saat ini ditulis Tahun 2014, hari ulang tahun Kaisar Heisei yang naik tahta sejak 1990 adalah 23 Desember

Banyak hari libur di Jepang yang berbeda tanggal tiap tahunnya. Perhatikan kalau mau berkunjung ke Jepang.

Seperti terlihat di tabel, walaupun telah ditetapkan dalam undang-undang, banyak hari libur yang tanggalnya bisa berbeda setiap tahunnya. Dan kalau diperhatikan, banyak hari libur di hari Senin. Ini berkaitan dengan diberlakukannya sistem Happy Monday mulai tahun 1999, di mana sebagian hari libur dibuat supaya bertepatan dengan hari Senin. Mengapa? Supaya hari liburnya menjadi lebih panjang (tiga hari berturut-turut). Selain itu, jika hari libur bertepatan dengan hari Minggu atau hari raya yang lain, maka akan dicarikan hari libur pengganti.

年の市(歳の市) – pasar yang menjual peralatan atau hiasan untuk menyambut akhir tahun dan tahun baru

Terakhir, ini bonus.

Selain hari libur nasional yang sudah ditetapkan, ada hari libur panjang yang secara umum dikenal di Jepang.

  • ゴールデンウイーク (golden week): Ini adalah satu minggu mulai akhir bulan April sampai awal bulan Mei di mana banyak hari libur nasionalnya. Oleh karena itu, banyak perusahaan yang memberikan libur atau karyawan yang mengambil cuti pada minggu ini, dan banyak yang berlibur ke luar negeri atau ke tempat wisata di dalam negeri.
  • お盆 (obon): Ini adalah hari-hari sekitar お盆 (obon), di mana pada hari tersebut dilakukan perayaan atau upacara ritual untuk menghormati orang tua atau nenek moyang yang telah tiada. Harinya sekitar tanggal 15 Juli tiap tahunnya.
  • 年末年始 (nenmatsu nenshi): Ini adalah hari-hari di akhir tahun dan awal tahun, biasanya mulai tanggal 28 Desember sampai 4 Januari. Pada hari-hari ini biasanya masyarakat Jepang pulang ke kampung halaman dan berkumpul bersama keluarga. Mungkin mirip dengan Hari Raya Idul Fitri kalau di Indonesia.

Sumber informasi dan media

Be careful with CHARSET – Indexing and joining in MySQL database

MySQL

Recently, I had to extract data from two data sources in two different databases. Both are using MySQL database. In order to make some queries, I dump those two data databases and then import and combine them into a single database, also using MySQL database. After that, I executed some queries but then the problem araised. There was a query which is taking so much time (few minutes), while it is supposed to complete in no time (few milliseconds). Here is the snipet of my query I have.

SELECT table1.pid, table1.attr1, table2.attr1
  FROM table1
 INNER JOIN table2
    ON table2.fid = table1.pid
 WHERE table1.pid = "one"

Yes, it is a simple SQL. Table table1 and table2 are those previously imported from different databases. Field id is the primary key of table1, where fid is a foreign key in table2 which contains data intended to be derieved from field pid in table1. These fields has the same data type varchar(6). Index has been created on field fid. There are about 27 thousands of rows in table1 and around 5 millions of rows in table2. If equally every record in table1 has the same number of correspondent records in table2, then this query is expected only returns around 180 rows. So, in theory, this query should take no time to complete. But the fact, it was not. Why?

After doing some researches, alone – due to the lack of information of the symptom of the problem I could not find any workaround from the Google –, I have found the the problem. The problem was that character set used in the field fid in table2 differ from one used in field pid in table1. Field pid in table table1 was using Unicode, while field fid in table table2 was using Latin character code. This difference has made the table join not working properly and even there is an index on field fid in table table2, rather than search from the index, the query execution plan has decided to scan for the entire rows of table table2 which has millions of data! So after I fixed this, the query executed in few milliseconds.

So how I found the problem?

In order to see how the query engine executing the query, in MySQL, we can use the statement EXPLAIN like the code below.

EXPLAIN
SELECT table1.pid, table1.attr1, table2.attr1
  FROM table1
 INNER JOIN table2
    ON table2.fid = table1.pid
 WHERE table1.pid = "one"

This will returns the following table.

id select_type table   type   possible_key  key      key_len  ref       rows
 1 SIMPLE      table1  const  PRIMARY       PRIMARY       20  const        1
 1 SIMPLE      table2  ref    fid           fid           21  const      179

The above table is the ideal plan, where you can see the reference key is only scaned for 179 rows which is near equal to the number of correspondent records in table table2. But how is the character set is set differently? Here is the result:

id select_type table   type   possible_key  key      key_len  ref       rows
 1 SIMPLE      table1  const  PRIMARY       PRIMARY       20  const        1
 1 SIMPLE      table2  ref    NULL          NULL        NULL  NULL   4897799

You can see, just because the character set is different, there is no key (index) used, thus the query engine has to scan for the entire rows of table table2. It is the same plan as when there is no index created on field fid in table table2.

Joining on differently set character set of indexed fields will generate the same plan as joining on no-indexed fields.

Character set in MySQL database can be set in database, table, and field, and they are independent.

So be careful when creating database. Play attention at the charater set of the database. Table new created is using this (database) character set. Same as field inside a table is using this (table) character set. But be careful. They are independent. If you change a database’s character set, tables already in that database are still using the previous character set. Same as in a table. If you change a table’s character set, fields already in that table are still using the previous character set. You should also play attention at the default character set in a MySQL instance. You can set the default character set of a MySQL instance by mention that in my.cnf configuration fie.

database. In order to make some queries, I dump those two data databases and then import and combine t hem into a single database, also using MySQL database. After that, I executed some queries but then the problem araised. There was a query which is taking so much time (few minutes), while it is supposed to complete in no time (few milliseconds).

Here is the snipet of my query I have.

SELECT table1.pid, table1.attr1, table2.attr1
  FROM table1
 INNER JOIN table2
    ON table2.fid = table1.pid
 WHERE table1.pid = "one"

Yes, it is a simple SQL. Table table1 and table2 are those previously imported from different databases. Field id is the primary key of table1, where fid is a foreign key in table2 which contains data intended to be derieved from field pid in table1. These fields has the same data type varchar(6). Index has been created on field fid. There are about 27 thousands of rows in table1 and around 5 millions of rows in table2. If equally every record in table1 has the same number of correspondent records in table2, then this query is expected only returns around 180 rows. So, in theory, this query should take no time to complete. But the fact, it was not. Why?

After doing some researches, alone – due to the lack of information of the symptom of the problem I could not find any workaround from the Google –, I have found the the problem. The problem was that character set used in the field fid in table2 differ from one used in field pid in table1. Field pid in table table1 was using Unicode, while field fid in table table2 was using Latin character code. This difference has made the table join not working properly and even there is an index on field fid in table table2, rather than search from the index, the query execution plan has decided to scan for the entire rows of table table2 which has millions of data! So after I fixed this, the query executed in few milliseconds.

So how I found the problem?

In order to see how the query engine executing the query, in MySQL, we can use the statement EXPLAIN like the code below.

EXPLAIN
SELECT table1.pid, table1.attr1, table2.attr1
  FROM table1
 INNER JOIN table2
    ON table2.fid = table1.pid
 WHERE table1.pid = "one"

This will returns the following table.

id select_type table   type   possible_key  key      key_len  ref       rows
 1 SIMPLE      table1  const  PRIMARY       PRIMARY       20  const        1
 1 SIMPLE      table2  ref    fid           fid           21  const      179

The above table is the ideal plan, where you can see the reference key is only scaned for 179 rows which is near equal to the number of correspondent records in table table2. But how is the character set is set differently? Here is the result:

id select_type table   type   possible_key  key      key_len  ref       rows
 1 SIMPLE      table1  const  PRIMARY       PRIMARY       20  const        1
 1 SIMPLE      table2  ref    NULL          NULL        NULL  NULL   4897799

You can see, just because the character set is different, there is no key (index) used, thus the query engine has to scan for the entire rows of table table2. It is the same plan as when there is no index created on field fid in table table2.

Joining on differently set character set of indexed fields will generate the same plan as joining on no-indexed fields.

Character set in MySQL database can be set in database, table, and field, and they are independent.

So be careful when creating database. Play attention at the charater set of the database. Table new created is using this (database) character set. Same as field inside a table is using this (table) character set. But be careful. They are independent. If you change a database’s character set, tables already in that database are still using the previous character set. Same as in a table. If you change a table’s character set, fields already in that table are still using the previous character set. You should also play attention at the default character set in a MySQL instance. You can set the default character set of a MySQL instance by mention that in my.cnf configuration fie.