Mendidik anak beribadah dengan sedikit mengajari tapi penuh kesabaran

Pertama saya ingin menekankan bahwa, tulisan ini tidak bermaksud untuk menggurui, tapi lebih kepada berbagi pengalaman. Saya pun hanya menulis berdasarkan apa yang saya dapatkan dan apa yang saya lakukan. Bukan berdasarkan suatu teori. Jadi, belum tentu juga kalau yang saya lakukan ini pembaca lakukan, lalu pembaca akan mendapatkan hal yang sama. Tapi karena saya merasa para pembaca semua memiliki aspirasi yang sama, saya berharap apa yang menjadi pengalaman saya ini bisa menjadi inspirasi bagi pembaca semua.

Anak pertama saya, Akira, laki-laki, baru saja mencapai umur lima tahun. Karena sedang tugas studi, sudah lebih dari setengah tahun ini saya tidak tinggal bersama dengan keluarga. Beberapa waktu yang lalu saya mendapat kabar dari ibunya bahwa Akira sekarang rajin sholat ke musholla dekat rumah, bahkan kadang-kadang qomat juga. Wah, bukan main senangnya saya mendengar itu. Saya merasa terharu dengan pertumbuhan anak saya.

Saya pertama kali mengajak anak saya sholat di masjid ketika anak saya berumur dua tahun. Kebetulan waktu itu pas Bulan Ramadhan, saya ajak ke masjid untuk sholat Isya dan Tarawih. Alhamdulillah, di masjid tidak rewel, walaupun tidak sampai selesai seluruh sholat Tarawihnya, kemudian saya ajak pulang. Esoknya dan beberapa hari kemudian, ketika saya coba ajak lagi, kadang-kadang mau kadang-kadang tidak mau, tapi saya tidak memaksa. Di rumah, saya sholat kadang sendiri kadang jamaah dengan istri saya. Anak-anak saya pun, kadang ikut berjamaah, kadang tidak.

Terus terang, saya tidak pernah mengajarkan anak saya sholat itu bagaimana. Saya hanya sholat, mengajak anak tapi tidak memaksa, lalu anak saya berusaha untuk mengikuti. Kalau ada yang salah, seperti misalnya salah meletakkan tangannya ketika berdiri, saya langsung membetulkannya. Ketika jamaah di masjid, misalnya anak saya menoleh ke sana, atau jalan ke mana-mana, saya akan langsung melarang. Setelah sholat selesai, lalu saya mengingatkan anak saya supaya tidak bermain di masjid.

Di sekolahnya—sudah lebih dari setengah tahun ini anak saya masuk taman kanak-kanak, dia diajarkan berdoa dan bacaan-bacaan sholat. Sebelumnya, dia hanya sekedar ikut-ikutan saja ketika ada orang baca doa atau adzan atau qomat, tapi begitu sudah sekolah, dia mulai bisa membaca doa dengan baik.

Begitulah yang saya lakukan, berkaitan dengan pendidikan ibadah pada anak saya. Dan alhamdulillah, sekarang anak saya rajin sholat di musholla, bahkan kadang-kadang qomat di musholla. Lingkungan tempat tinggal kami memang perumahan muslim, walaupun sepertinya musholla yang baru dibangun belum setengah tahun yang lalu ini masih belum ramai. Tapi saya memang usahakan sebisa mungkin untuk sholat di masjid (tidak jauh dari rumah juga—sebelum ada musholla di dalam perumahan) dan di musholla, dan saya hampir selalu mengajak anak saya untuk ikut ke masjid, walaupun kadang-kadang mau kadang-kadang tidak mau.

Akira punya adik, Akari, perempuan, yang sekarang berumur dua tahun delapan bulan. Setengah tahun yang lalu, saya coba ajak dia ke masjid, dan alhamdulillah, dia mau. Saya pakaikan mukenah, lalu saya ajak ke musholla. Berbeda dengan kakaknya, Akari lebih aktif, jalan-jalan di dalam masjid dan main dengan anak-anak lain. Beberapa waktu lalu yang lalu ketika saya ada waktu berkumpul dengan keluarga, saya pun mengajak Akari sholat ke musholla. Walaupun masih bermain-main saja di musholla, tapi saya perlakukan sama dengan kakaknya, yaitu langsung saya ingatkan ketika sholat dan setelah selesai sholat. Dengan harapan, kalau sudah bertambah besar nanti, akan pandai juga seperti kakaknya. Aamin.


Sumber gambar: PULSK, MUSLIM SUMBAR.

Advertisements

Tape singkong—suatu kontradiksi dalam masyarakat Islam di Indonesia

Tulisan ini adalah terjemahan dari sebuah blog milik seorang Jepang yang telah lama tinggal di Indonesia. Silakan disimak.


“Tape, tape..”, begitu yang diucapkan oleh bapak penjual tape keliling, yang paling tidak sekali sehari lewat di depan Soho.

Tape, atau lengkapnya tape singkong, merupakan makanan yang diragikan, dan tentu saja mengandung alkohol, dan bisa dipastikan dari bau dan rasanya. Ini membuat saya, sejak lama menganggap makanan ini sangat kontradiksi dengan masyarakat Indonesia yang mayoritas menganut agama Islam.

Agama Islam mengharamkan alkohol, namun tape singkong sudah sejak lama dikonsumsi oleh masyarakat. Di Indonesia, tape singkong dijual dengan tanpa masalah apa-apa. Saya rasa bukan saya saja yang menganggap hal tersebut sebagai kontradiksi.

Singkong adalah salah satu jenis ubi. Orang Jepang mungkin belum pernah mendengar. Mungkin lebih mudah dipahami kalau disebut sebagai bahan dasar tepung tapioka. Bisa dinikmati dengan cara diirisi tipis-tipis dan diolah seperti kripik kentang, atau dibakar dan direbus dan dikonsumsi sebagai makanan pokok.

Tape singkong tampaknya basah dan mengeluarkan aroma osake yang manis yang saya tidak bisa ungkapkan dalam kata-kata (red: osake = sebutan untuk minuman beralkohol atau produk minuman beralkohol khas Jepang). Walaupun aromanya berbeda, mirip dengan amazake (red: sejenis osake yang memiliki aroma yang manis).

Tape singkong bisa dimakan begitu saja, atau digoreng terlebih dahulu. Kalau terlalu banyak bisa menjadi masalah, tapi anak-anak sangat suka dengan tape singkong ini. Kalau digoreng, sebagian alkoholnya menguap mungkin ya..

Pada kenyataannya, cairan yang dihasilkan dalam proses peragian, juga dijual dalam kemasan botol. Saya sudah berjanji dengan tukang ojek yang suka minum osake, akan pergi ke tempat penjualnya. Tidak sabar saya menunggu waktu itu.


Sumber: タペ・シンコン(Tape Singkong)イスラム国の矛盾食品?